Dua Puluh Satu Januari, Malang (bagian 1)

 

Saya terbiasa tidak melawan alam. Saya tidak bepergian dikala musim badai..lebih memilih jalan-jalan dikala musim duren :p ….kecuali saya pergi ke tempat-tempat yang indoornya handal….kalau masih ngotot milih outdoor yaaah pasrah saja hati diporakporandakan dengan kendala hujan, badai, air laut pasang, dan segala gaya alam lainnya…namun kali ini saya berkeras hati…musim hujan manapun tidak akan mampu membatalkan niat kepergian saya…maka..bersama enam orang sahabat lainnya, pergi  berbekal ponco ke Surabaya.

SURABAYA!!

Long time no see…tak sabar bertemu, saya berangkat dengan penerbangan pertama, bersama 3 orang sahabat, menikmati penerbangan delay 30 menit. Ah itu biasa…yang on time itu yang luar biasa.. penerbangan JKT – SUB ditempuh sekitar 1 jam 20 menit. Jam 8 pagi kami sudah leyeh-leyeh di warung kopi premium di area kedatangan. Bandara penuh kenangan..ihiiw… saya sempat tinggal di Surabaya meskipun tidak sampai setahun… saksi saat-saat pertama mencapai kemakmuran rohani :p apalagi kalau bukan bisa bayar kosan sendiri, makan sendiri, jalan-jalan sendiri…lagi-lagi..kesombongan di masa muda yang indah…puas nongkrong di bandara, mari kita pergi ke Malang…kota ”kelahiran” saya.. salah satu guru terbaik saya 🙂

Surabaya menuju Malang, melewati Porong, Sidoarjo. Masih macet..tapi sekarang ada wisata lumpur…salut!! saya tidak sempat singgah dan mendalami konsep wisata lumpur ini. Tapi dari pinggir jalan raya porong, kita bisa melihat tanggul-tanggul buatan yang mengelilingi tempat wisata. Kata Pak driver yang membawa kami, kita bisa foto-foto di area wisata dengan latar belakang lumpur….ah..mana tega saya berfoto di sesuatu yang menelan manusia, bangunan, dan hal-hal lain yang bernyawa…mobil kamipun berlalu…

Kami singgah di Pandaan untuk sarapan yang terlambat. Warung Santai, rumah makan konvensional, tempat kami lupa membayar dua gorengan yang kami makan..ahhhhhh kacau sudah hari ini. Semoga rezeky selalu berkelimpahan kepada kami yang pelupa ini :p

Saya memilih soto ayam. Sebagai seorang yang bukan penggemar soto saya memuji soto ayamnya… lumayan menawan nurani sang lidah…sisanya terserah anda 🙂

 

MALANG!!!

Saya berjanji mengunjungi kota ini jika kantong saya mulai menebal dan saya memiliki kesempatan…kali ini, saya mengabaikan faktor kantong yang benar-benar tipis … kerinduan akan semangat hidup yang dibangkitkan menjadi-jadi…saya tidak punya pilihan lain…saya ingin mengawali dekade keempat hidup saya dengan mengunjungi Malang, tempat ”kelahiran” saya…

Kami tiba di Malang sekitar pukul 12 siang … Malang tersenyum indah, hujan yang biasanya turun dengan sombongnya kini hanya gerimis, sebagai tanda ucapan selamat datang…Malang banyak berubah sejak saya tinggalkan enam tahun lalu. Ketika itu saya memutuskan segera meninggalkan kota kecil ini, lagi-lagi karena gejolak darah muda…ahhh Lagu Darah Mudanya Bang Roma seketika berkumandang seiring saya menulis cerita ini… :p Gejolak untuk ingin berpindah sesi kehidupan… bosan jadi mahasiswa ..mahasiswa remaja…yang naif…kere…SOMBONG! itu perlu untuk pemicu..jadilah saya mahasiswa lulusan kedua, hanya berselang 2 minggu dari lulusan pertama, seorang sahabat yang luar biasa ganteng, pintar, rendah hati dan suka menabung itu….Batak Jawir…yang kalau saya jalan dengannya akan mendidihkan darah para fans-fans saya yang posesif dan juara manyun :p

Salam sejatera sahabat…semoga hidupmu damai dan ganteng sampai akhir nanti 🙂

Malang sekarang sudah bergerak menjadi kota wisata (kalau saya tidak salah). Tempat wisata mulai banyak dibuka, hotel, losmen, homestay banyak beroperasi yang jika long week end sudah dipastikan full booked. Bahkan bantaran sungai di bilangan Jalan Soekarno Hatta sudah berubah menjadi gedung tinggi calon apartment. Dibandingkan enam tahun lalu, hanya ada Pasar Besar, Department store kelas dua, dan kelas tiga. Saya tidak pernah shopping di Malang…bukan karena selera pakaian saya yang tinggi hehehe…tapi badan bongsor hasil blasteran Londo dari Eyang Buyut Kakek saya memaksa saya untuk selalu masuk ke toko bermerk….Department Store di Seluruh Malang Raya tidak mampu menyediakan pakaian yang pas buat saya 😉

Di sore hari yang agak mendung saya berkunjung ke Batu. Ada Jatim Park 1 dan Jatim Park 2, dan Batu Night Spectacular yang buka setelah jam 5 sore. Batu Secret Zoo ada di Jatim Park 2, banyak hewan langka yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Beda konsep dengan taman safari di Indonesia…apalagi kebun binatang ragunan :p Lingkungannya masih bersih, binatangnya nampak sehat, dan…saya paling tertarik dengan hewan yang bernama bangau. Kali ini saya melihat bangau merah muda….mampu berdiri dengan satu kaki…tenang…menyendiri…hidupnya damai walau difoto ratusan pengunjung setiap harinya….

Kalau sudah pernah ke amusement park di luar negeri, sulit untuk menghenyuhkan hati dengan mengunjungi amusement park di Indonesia. Katakanlah Ancol yang sudah berdiri sejak tahun sebelum orang tua saya masih kanak-kanak. Saya tidak begitu tertarik karena jauh dan panasnya luar biasa. Maka lebih sulit lagi untuk mengulas amusement park yang ada di kota kecil ini. Saya hanya mengunjungi Pojok Lampion di Batu Night Spectacular, karena saya sangat suka lampion….Lampion saya identikkan dengan cinta, kasih, keselamatan, dan penghargaan. Lampion selalu bercahaya, menonjolkan warna-warna samar di malam hari. Mungkin traveling selanjutnya saya ingin berburu pesta lampion suatu perayaan….

Malam harinya kami melepas lelah dan rasa lapar di sebuah rumah makan. Sambil menunggu Sahabat yang terbang di kloter ke dua….aahaha orang-orang luar biasa ini….. Tiba-tiba jadwal kuliah mereka dimajukan ketika jadwal traveling kami sudah matang dan tiket sudah dibeli. Tapi itu semua tak menghalangi pelampiasan kegilaan Indonesia Indah..selesai kuliah mereka mengajak supir terhandal untuk mengantar ke bandara. Saharjo – Bandara hanya 30 menit, dan dengan itikad baik mereka akhirnya berkumpul dengan kami di sebuah rumah makan di Malang…INDONESIA KRUCUK KRUCUK KRUCUK

Rumah Makan IDR 100 Ribu bersembilan itu adalah Rumah Makan Pak Kumis, letaknya di sekitaran perumahan permata hijau. Menunya..Cuma tahu campur…tapi…ah berikut saya upload fotonya :p

Ada lagi tempat makan yang kami kunjungi secara tidak sengaja. kami sampai di Malang terlanjur larut malam dan warung bakso target kami sudah tutup. Hasilnya, kami makan di sebuah restoran yang masih buka, terletak di sebelah bakso president, dekat stadion Gajayana. Yang menarik bukan belut gorengnya yang keasinan…tapi penyanyi cafenya yang aduhai…istilah kami, ”when face and voice are met” ….berwajah Brandon Fresher dan suaranya macam pearl jam saja…kalau beliau di jakarta mungkin cafenya sudah laris manis tak peduli hanya jual kopi tabrak lari…saya beri dua jempol untuk suaranya yang menyanyat hati meminta kami, satu-satunya pengunjung, untuk tetap tinggal dan menonton aksinya di atas panggung….ah waktu kami terbatas…kami lebih memilih pulang dan tidur cukup. Hampir dua hari kami tidak tidur …. ingin melanjutkan perjalanan esok hari dengan keadaan sehat dan segar…ke mana kita??? Paralayang di Batu 🙂

Kami mencoba ke operator paralayang di Batu. Pagi sebelum kami dinyatakan terbang, marketing operator mengabari kami cuaca cerah dan angin bersahabat. Kami berjingkrak kegirangan. Ada yang lebih baik dari cuaca cerah di liburan imlek?? Tidak ada … kamipun berangkat ke Batu dengan pakaian sopan terbang dan kamera berbatre full charge…

Di Batu, Songgoriti tepatnya..setelah rumah sakit jiwa belok kanan, pertigaan belok kanan, belokan pertama belok kiri….kami dimanjakan dengan pemandangan pegunungan khas Indonesia. Gunung Arjuno, Putri Tidur, dan barisan lahan perkebunan sayuran, plus hutan pinus tak mampu mengelap iler kami yang menetes. Driver nan jagoh pun tersesat…memutar balik mobil setengah truk nan panjang di jalan sempit, membujur di pinggiran jurang….ahhhh Pak Deeeee….pemandangan memang indah…tapi ingat saya belum menikah!!!! Saya melompat turun dari mobil…ikut meneriakkan jarak batas mobil dengan bibir jurang yang hanya beberapa puluh centimeter….

 

Namun kabar gembira ini tidak kami lanjutkan dengan kesenangan hati. Sampai di tempat Paralayang, senior instrukturnya mengatakan semua take off dibatalkan karena angin yang datang searah dengan arah terbang paralayang. Untuk terbang ke arah Timur, paralayang harus dihembuskan angin Timur sehingga parasut bisa take off dengan baik. Sedangkan angin yang sedang berhembus adalah angin berasal dari arah Barat. Huuuuuuuuu Penonton kecewa….”Katanya tadi bisa???” Kata seorang teman. ”Maaf Bu, yang nelpon ibu hanya orang sales and marketing. Tidak terlalu paham dengan teknis”, kata sang instruktur…Hayah…dimana-mana sales and marketing harus mengerti produk yang dijualnya, termasuk urusan teknisnya.

Operator ini juga hanya memiliki plant yang memungkinkan paralayang cuma bisa terbang ke Timur. Bagian Barat Bukit titik take off dipenuhi dengan pohon dan jurang sempit yang tidak memungkinkan Paralayang untuk terbang. Jadi, ketika angin berhembus dari Barat, sudah dapat dipastikan kita tidak diizinkan terbang. Informasi yang saya dapat adalah berkunjung di bulan-bulan kering setelah Maret akan jauh lebih baik. Tapi saya kira arah angin tidak ditentukan oleh musim kering atau musim duren…kalau debit hujan mungkin memang betul dipengaruhi bulan-bulan kering.. begitu pelajaran yang saya peroleh di kelas pawang hujan.. .ah sudahlah..kami masih bisa berfoto dan menikmati pemandangan indah alam Indonesia. Kegagalan kali ini justru mencetuskan ide lain yang segera akan kami realisasikan..tunggu cerita selanjutnya 🙂

Malang, saya menikmati kunjungan di setiap menitnya..menghirup udara di setiap detiknya…bukan mau terkenang-kenang masa-masa keemasan dulu, tapi ingin membanggakan masa-masa kejayaan hari ini. Saya sempat bertemu seorang sahabat, saudara, sekaligus pemuja setia … hahahaha ngeleslah kau sekarang Jat!! Saya menghabiskan sore pertama saya dan membuat repot sahabat saya ini dengan bookingan hotel dan mobil yang mendadak. Tapi apa sih yang tidak bisa dia lakukan untuk saya??? Mobil sempurna, driver sempurna, hotel (mudah2an) sempurna, dan menceritakan perjalanan-perjalanan sempurna dengan tertawa sempurna. Sesorean kami berbincang di tengah-tengah amusement park yang sederhana…milik kota kecil yang membesarkan kami dengan baik, dan dengan kerendahan hati, menonton anak kelas tiga SD menjuarai pertandingan gokart di mini circuit…masa muda kami memang indah, tapi kami tumbuh dewasa dengan gemilang. Salam saya sahabat…hari itu adalah hari terakhir saya menemuimu sebagai lajang..Semoga kau berbahagia 🙂

Satu lagi seorang terbaik yang berjasa dalam kehidupan mahasiswa saya di Malang, datang dan mengenalkan saya dengan putri sulungnya yang masih balita. Menemui saya hanya untuk berkata, saya tidak pernah berubah….saya memang tidak pernah berubah, sahabat, dan tidak akan berubah… 🙂 Itulah yang terbaik dari saya.

Hampir dua hari saya tidur hanya 2 jam, tidak lebih. Hari pertama kunjungan, kami hanya beristirahat 2 jam di kamar masing-masing. Selanjutnya, kami mulai kegilaan ini. BROMO!!! We are coming….

Bersambung

Catatan perjalanan :

Biaya yang saya keluarkan untuk pesawat JKT-SUB seharga tiket eksekutif kereta api JKT – Malang PP. Saya memilih surabaya karena lebih banyak pilihan penerbangan dibandingkan terbang ke Malang yang jam dan maskapainya masih terbatas. IDR 2.8 Juta untuk transportasi 3×24 jam on the road untuk 7 orang gila masih pantas dikeluarkan, (jangan lupa) tiping untuk sang driver JAGOH!!

Kami memilih Malang untuk menginap karena hotelnya terjangkau, jalan-jalannya masih lebar dan sepi..ahh bukan itu saja alasan sebenarnya…Malang memang tujuan utama saya berkunjung bukan? 🙂 Home Stay seharga IDR 375rb untuk dua orang berhasil kami booking di saat-saat terakhir hotel di seluruh Malang dinyatakan penuh pengunjung

Traveling saya kali ini agak rumit, sedikit meleset dari prediksi, dan sangat menguras emosi. Rumit karena load pekerjaan tiba-tiba membludak di dua minggu terakhir, sampai waktu malam terakhir disaat saya harus berkemas, meleset ketika kondisi tubuh menurun akibat rutinitas ”ronda” yang mau tidak mau harus dilakukan di 1 bulan terakhir ini, dan sangat menguras emosi karena beberapa orang traveler yang nyaris membatalkan keberangkatan karena faktor-faktor yang sangat menyebalkan selain force major…apalagi kalau bukan perubahan jadwal kuliah…Tapi semuanya sudah berlalu…yang ada sekarang…semuanya terbayarkan…terbayarkan oleh cuaca yang luar biasa cerah…dari kedatangan kami di Malang…sampai hari terakhir ketika kami menginjakkan kaki kami di Bandara Juanda Surabaya untuk pulang ke Jakarta.

”Elu Jat. Datang bak badai, pergi bak badai!” Itu kata sahabat saya. Kata saya, cobalah berbuat diluar kondisi normal..maksud saya .. saya hanya berusaha membuat hal-hal kecil bisa menjadi luar biasa. 3 Hari kunjungan kami serasa lima hari, tidur di mobil, makan seadanya, dan kami hanya berpikir waktu memang tidak akan pernah kembali. Kami bisa berkompromi dengannya…memperindah waktu yang terbatas dengan itikad baik menempuh perjalanan-perjalanan berharga ini. Dan nilai lebih saya hadiahi untuk diri sendiri adalah… adakah yang lebih baik daripada mengumpulkan orang-orang yang gemar traveling dan tertawa??

Catatan perjalanan ini benar-benar bersambung 🙂

salam mebading

7 Thoughts to “Dua Puluh Satu Januari, Malang (bagian 1)”

  1. Ah kau…netes ini baca kalimatmu yang “ituh” 😀

    Begitu ada kata2 “Ga thanks”, baru sadar kalau pertemuan selanjutnya hanya dapat digantungkan pada “umur” dan “takdir”. Seribu rencana pun bisa tak terwujud kalau Beliau tidak berkenan.

    Akhir dekade kedua –> teman kuliah.
    Dekade ketiga –> sohibul sohib (entah apa artinya).
    Dekade keempat –> ah, malu kali mau ngetiknya…

    Ga thanks jat ^o^

    1. writemebading

      Dekade keempat –> angkat gelas!. Selalu bikin cerita happy ending karena penonton akan senang 😉

      ga thanks Jat! 🙂

  2. writemebading

    Uooohhh…Bjat 3 is in da Haus … :p
    masa muda yang indah ..masa dewasa yang gemilang…:)

    salam mebading

  3. writemebading

    kedatangan tamu-tamu mengejutkan …silahkan … 🙂

    001060354-63

    1. writemebading

      monggo 00-367 🙂

  4. lenita

    very nice story…i’d like that…
    i need a guide who accompanied to the city..

    1. writemebading

      hi Lenita…Malang sangat ramah untuk solo traveler .. bring your map and your travel guide… try it 🙂

Leave a Reply