Tanjung Pinang Tepi Laut!

 

 

Siapa sangka Tanjung Pinang dulu pernah menjadi pusat kerajaan besar. Namun sisa-sisa kejayaan itu tak lagi nampak kasat mata. Kini Tanjung Pinang hanya diingat sebagai ibu kota propinsi muda yaitu Propinsi kepulauan Riau.

 

Mencari tahu sisa-sisa peninggalan kerajaan melayu, teringatlah saya dengan situs yang masih sedikit menjawab pertanyaan tersebut. Di Pulau Penyengat masih ada makam keluarga kerajaan Sultan Riau. Penyengat dapat dijangkau dengan Perahu kecil (pompong). Hanya 15 menit menyeberang ke selatan tanjung pinang, kita akan sampai ke pulau kecil yang memiliki luas kurang lebih 2km persegi ini.

 

Kalau anda masih ingat dengan Gurindam 12 di pelajaran Bahasa Indonesia ketika di Sekolah Dasar, di Pulau kecil inilah tempat peristirahatan terakhir pengarangnya, Raja Ali Haji, yang merupakan seorang Pahlawan Nasional dan juga disebut sebagai bapak Bahasa Indonesia.

 

Pulau Penyengat pernah menjadi pusat peradaban Melayu di tahun 1900an setelah Sultan Kerajan Riau-Lingga memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau kecil ini. Entah apa pertimbangannya memindahkan pusat kerajaan ke Pulau kecil ini. Sisa-sisa peninggalannya masih terlihat, seperti Masjid Raya Sultan Riau yang konon mengunakan putih telur (sebagai pengganti semen??), Istana kantor, Istana yang dibangun sekaligus sebagai kantor pusat pemerintahan, dan benteng pertahanan di bukit kursi. Peninggalan di Pulau-Pulau ini sudah didaftarkan sebagai warisan dunia ke UNESCO. Kita tunggu kabar baik selanjutnya.

 

Tanjung Pinang bisa diakses melalui pelabuhan Udara

Sesaat lagi pesawat berbadan nanggung yang saya tumpangi akan mendarat di sebuah pulau di Indonesia yang konon rupawan. Pesawat menurunkan ketinggian jelajahnya. Tanah merah mulai terlihat dari langit.

Raja Haji Fisabillilah international Ariport salah satu airport yang tidak ramai. Bangunan barunya kecil dan lengang. Landasannya tidak terlalu panjang sehingga pesawat harus mendadak ngerem sesaat begitu roda pesawat menapak tanah. Kabarnya bukit setinggi 25 meter harus dipangkas jika landasan ingin diperpanjang sehingga memungkinkan pesawat2 berbadan lebar mendarat di landasan bandara ini. Memang butuh kerja keras untuk bisa memiliki infrastruktur yang memadai.

DSC_0294

 

Tidak terlalu sulit menyusuri kota kecil ini. Jalan-jalannya tidak banyak dan cenderung sepi. Saya kesulitan mendapatkan rumah makan yang menjual makanan khas setempat. Hanya ada pecel lele saya rasa 😀

Pukul 5 sore jam nongkrong yang pas untuk menikmati sore pikir saya. Disebuah warung kopi di salah satu jalan protokolnya, nampak pemilik warung sedang beres-beres.

“Sudah Buka Bang??” Tanya saya

 

“Buka kok kak”, jawabnya.

 

Saya memesan kopi dan martabak, tak lama pesanan datang. Saya mengunyah martabak seperti biasa, tidak ada rasa yang membuat makanan ini spesial. 30 menit saya berdiskusi dengan teman tentang potensi-potensi yang ada di Tanjung Pinang ini, tahu-tahu abang pemilik warung membereskan dan membawa masuk dagangannya.

 

“Loh tutup, bang??” Tanya saya.

 

“Iya kak”, jawab pemilik warung.

 

Saya buru-buru menyeruput sisa kopi yang masih separuh lebih, membayar martabak (mahal) kemudian bergegas pergi. Ke mana kita masih sore begini?? Saya terdiam …..krik .. krik..krik…

 

Tanjung Pinang, Bintan secara umum memang masih harus berjuang untuk memajukan industri pariwisatanya. Tanjung Pinang sebagai pusat pemerintahan propinsi muda di Indonesia masih banyak memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Seperti misalnya Bandara RHF yang sudah mulai nampak diperbarui, bukan tidak mungkin pesawat-pesawat berbadan lebar dari luar negeri nantinya bisa langsung mendarat di bandara ini. Tak usah jauh-jauh ke cengkareng dulu jika wisatawan mancanegara ingin menikmati fasilitas Golf atau Pulau-pulau cantiknya yang tersebar di sepanjang garis pantainya. Selain itu Tanjung Pinang juga memiliki Pelabuhan laut yang sangat strategis. Tinggal komitmen bersama antara pemerintah, investor, dan pihak-pihak pengembang saja, mau di bawa ke mana potensi daerah yang masih menunggu untuk dikelola ini. Kalau nanti sudah maju, maka tak usah bingung lagi mencari warung kopi jam 5 sore di Tanjung Pinang.

  • salam mebading –

DSC_0219

Leave a Reply