Terlantar di Bintan Timur, Hotel-Hostel-Kandang Kaya Rasa Kaya Warna (Bagian 2)

 

Bintaaaaan…..

Salah satu tujuan wisata termahal di Indonesia sudah di depan mata. Pulau yang terkenal dengan fasilitas Golf No.1 nasional ini juga terkenal akan pulau-pulau kecilnya yang digandrungi wisatawan asing. Kalau dilihat dari majalah-majalan traveling dan review-review di internet, Bintan memang punya fasilitas resort nomor wahid. Bahkan salah satu trainer saya di project management, bule Singapore, sempat bercerita tentang pengalamannya pernah sebagai project manager termuda yang membangun kawasan wisata yang terintegrasi dengan Singapore (ya Bintan, mana lagi)  di tahun 90an.

Saya sengaja tidak memesan hotel …uhuuy….. waktu ada, hotel bisa milih, duit banyak….eh …. saya ingin berkeliling melihat hotel-hotelnya langsung dan milih-milih. Pasti mudah menemukan hotel di salah satu Pulau di Negeri Segantang Lada ini. Mobil sewaan ngacir ke Bintan Timur yang belum banyak terjamah. Bintan Timur terkenal dengan pantai Trikoranya. Beginilah perjalanan saya (terlantar) di Pantai Timur Bintan….

Pelabuhan laut Sri Bintan Pura terletak tidak jauh dari pusat kota Tanjung Pinang, Ibu kota Kepulauan Riau. Perjalanan dari Tanjung Pinang menuju pantai trikora dapat ditempuh melalui jalan lintas timur. Sepanjang jalan raya yang sejajar garis pantai itu kita bisa menemukan…. Semak belukar…..:(
Pantai berada sekitar 100 meter dari jalan raya, kadang lebih jauh sehingga sama sekali tak terlihat dari jalan raya. Jangan membayangkan jalannya seperti jalan lintas Padang – teluk bayur- painan yang bersih, kaya pemadangan, dan hanya selemparan batu saja untuk sampai di bibir pantai.
Sepanjang 2 jam perjalanan saya hanya menemui semak belukar… kampung-kampung nelayan, atau kampung-kampung kecil yang nampak lengang….krik….krik….krik….Saya mulai melupakan citra fasilitas Golf No.1 di Indonesia itu.

Setelah dua jam perajalanan akhirnya saya melihat tanda-tanda lokasi pariwisata. Kalau anda pernah mendengar Pulau Nikoi nan cantik yang kerap ada di majalah-majalah traveling itu, nah!!!!….menyeberang ke Pulau tersebut harus melalui pantai trikora. Sayang Nikoi sudah penuh sebelum saya memutuskan untuk berpelesir ke Bintan ini. Reservasi bisa dilakukan online atau langsung menghubungi pihak resort. Nikoi tidak benar-benar Indonesia. Kabarnya (lagi) Nikoi adalah salah satu pulau yang dikembangkan dan diperuntukkan bagi wisatawan asal singapore yang ingin berlibur ke pulau tropis. Kasihan juga orang Singapore ngga punya pulau lain selain pulau buatan yang penuh dengan theme park, pantai buatannyapun ga mirip banget sama pantai di Ancol. Saya terus menyusuri jalur pantai. Jalan masih dipenuhi semak belukar. Namun kali ini pemandangan lain yang benar-benar merusak mood disajikan di sepanjang jalan. Di kiri kanan jalan dipagari dengan pagar-pagar seng, kavlingan-kavlingan calon resort yang masing-masing memajang tulisan besar-besar tanah ini milik bla bla…atau dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan. Pantai mulai sulit dilihat….krik..krik…krik….

DSC_0201

Dipandu travel guide online saya mengunjungi resort (dengan private beach) yang bertengger di kisaran 2 jutaan semalam. Saya masuk pekarangannya dan menuju lobby resort yang terbuka, ciri khas resort tropis. Seorang mbak-mbak berpakaian caddy golf muncul dari dalam.

“mba ada kamar kosong??”, Tanya saya

“oh hari ini penuh. Kalau mau sewa harus pesan online. Kita ada kamar bla..bla…dengan private beach bla..bla…”

Bah! Macam hotel di tengah kota Singapore aja pesannya harus online, minimal 24 jam sebelum check in kamar harus sudah dibayar.

saya ngeloyor pergi setelah melihat gubug-gubug kecil beratap rumbai yang disebut sebagai resort itu, 2 jutaan brooo semalam dengan private beach ga lebih dari 10 meter ke bibir pantai.

Pantai Trikora mungkin pantai terpanjang di dunia…halah. Saking panjangnya, Pantai Trikora sambung menyambung dari Trikora 1 sampai Trikora 6. Setiap hotel, penginapan saya masuki. Anehnya hotel-hotel yang baru jadi seperempat sudah disewakan. Di mana kenyamanannya kalau kawasan hotel penuh dengan tumpukan karung-karung semen, pasir, kayu-kayu bekas bongkaran, bercampur dengan nisan kuburan. Parah… ini saya temui di sebut saja AAA Resort. Resort ini juga dipromosikan di travel map resmi dan dipajang di setiap titik penting Pulau Bintan.

Hotel/resort dengan private beach yang menjadi tawaran wajib di Bintan Timur. Hal ini membuat kesulitan menemui pantai – pantai untuk umum yang layak. Jikapun ada maka keadaannya pas-pasan. Saya memasuki sebuah penginapan terapung. Berharap mendapatkan suatu tempat anti mainstream, saya diantar menuju kamar-kamar yang dibangun di atas air laut itu. Melewati sebuah bangunan yang ternyata sebuah rumah makan, kami dipandu berjalan menyusuri jembatan-jembatan kayu. Bau amis dari air laut yang ditampung di bawah jembatan-jembatan kayu mulai tercium. Saya menutup hidung dan berpikir, bagaimana bisa pengunjung rumah makan  menikmati hidangan sambil menutup hidung???

Menurut travel guide, penginapan ini terakhir dipugar tahun 2007 tapi melihat kondisinya, saya kira hotel ini sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu..hahaha…. Saya mendapati kamar 2meterx2meter, dilengkapi dengan jendela persegi sepanjang lengan bawah yang menghadap ke laut, sprei lusuh tak pernah diganti (mungkin), kamar mandi basuh seadanya yang saluran pembuangannya langsung ke laut ouch!! Yang paling fatal adalah ketika saya bertanya kepada penjaga penginapan.

“pantai tempat main di mana bang?”

“Tidak ada kak, di sini saja” katanya sambal ngeloyor pergi tanpa menanyakan saya jadi menginap atau tidak….wakakakak

Ingin rasanya berteriak kesal, “wah enak sih tidur di atas air begini. Bangun-bangun sudah di samudra pacific sambil memeluk jamban! …”

Tapi sudahlah. Saya lalu berfoto untuk kenang-kenangan pernah ke penginapan apung terburuk yang pernah saya lihat, bukan hanya buruk bangunan yang (sorry to say) lebih mirip fasilitas MCK (atau kandang ayam???) daripada sebuah penginapan tapi juga buruknya keramahan tuan rumahnya.

DSC_0213

Tidak adil kalau saya mencap Bintan Timur gagal mengelola pariwisatanya. Memang untuk membangun pariwisata tidak murah dan butuh waktu yang cukup panjang sampai puluhan tahun. Semoga beberapa tahun ke depan Bintan Timur mulai dapat bersaing layak. Dan semoga saja tidak hanya private beach yang diperhatikan, namun juga pantai-pantai umum tempat masyarakat lokal dan wisatawan domestik masih dapat menemui Indonesia di pulau-pulau kecilnya. Itu hanya harapan saya saja, belum tentu investor dan dan penguasa setempat menginginkan hal yang sama. Kita lihat saja perkembangannya beberapa tahun ke depan.

Hari mulai senja, dan saya menyerah. Kami berhenti di Trikora 6, ujung paling jauh Pantai Trikora. Balai-balai beratap rumbia untuk duduk-duduk berjajar di sepanjang pantai, lumayan merusak pemadangan….. Kami bertiga memesan mi instan goreng lengkap dengan telur. Air laut sedang surut, kami hanya memandang laut dikejauhan. Batu-batu besar mirip dengan pantai yang ada di Belitung. Kami menghela nafas, menyelesaikan makan siang kami yang sangat terlambat, kemudian bergegas kembali ke Tanjung Pinang. Akhirnya saya memutuskan memesan ONLINE hotel bintang empat yang berada di pusat kota Tanung Pinang.

Pengalaman saya di Bintan ini mengingatkan saya tentang Singapore. Sulit menemukan tempat bermalam kalau lagi week end. Bedanya, kalau di Singapore semua hotel/penginapan saat week end memang penuh, kalau di bintan, hotel/penginapan yang layak huni saja yang penuh. yang tidak layak huni? Siapa yang mau tingal di penginapan yang tidak layak huni? Saya tidak…..

salam mebading

DSC_0199

2 Thoughts to “Terlantar di Bintan Timur, Hotel-Hostel-Kandang Kaya Rasa Kaya Warna (Bagian 2)”

  1. deni

    Interesting note Ri… “you never lose a dollar of your money for a journey” it’s always worthed

    1. I’m with you …absolutely agree….

Leave a Reply