Tamasya Kuli Sinyal Bagian 3 : Naik Boing atau Naik Avanza Trans Sumatra…Sama Jet lag-nya.

Tak habis-habis cerita tentang Sumatra Barat. Kali ini, kali dua, kali tiga, atau mungkin sudah selusin kali saya mengunjungi propinsi satu ini. Saya menyusuri Sumatra Barat dengan para “pembalap-pembalap” trans Sumatra, atau mencoba pesawat jet berbadan kurus pengganti turboprop yang biasa dipakai pada penerbangan rute-rute pendek.

Danau Maninjau, Danau Singkarak, Bukit Langkisau, Puncak Lawang, dan seribu pantai bisa anda temui di Sumatra Barat. Jika anda penikmat wisata alam, Sumatra Barat punya ribuan tempat tersembunyi yang tidak diduga keberadaannya.

Meniru acara-acara wisata kuliner saya juga sedikit mencoba wisata kulinernya. Sumatra Barat memang punya kuliner yang jarang ada tandingannya. Pada zaman pendudukan Belanda, Sumatra Barat merupakan salah satu jalur perdagangan rempah-rempah besar dunia. Semua jenis rempah-rempah di dunia 90 persennya ada di Sumatra Barat, begitu kata sebuah film dokumenter di salah satu stasiun tv impor. Inilah alasannya mengapa makanan terenak versinya dunia berasal dari Sumatra Barat. Bukan rendangnya yang saya sukai. Cobalah berhenti di rumah makan-rumah makan kecil di pedesaan, sambalado terenak di dunia bisa anda temui di mana saja.

Yang paling saya nikmati adalah wisata sejarahnya. Sumatra Barat juga menyajikan segudang wisata sejarah yang tersebar di semua kabupatennya. Bukan hanya museum, tapi tempat-tempat bersejarah masih berusaha dipertahankan keberadaannya. The Hill Hotel di Bukttinggi yang dulunya adalah salah satu kantor Gubernur pada zaman Belanda sampai kini masih beroperasi. Jam Gadang yang dibangun pemerintahan Belanda, Wisata jalur kereta Api tua Padang Panjang, sampai tempat pertambangan batu bara di Sawah Lunto, adalah tempat-tempat bersejarah lainnya yang masih cukup terawat dengan baik. Di masa kekuasaannya di Indonesia, Jepang telah membangun lebih dari 100 km terowongan bawah tanah di bawah kota Bukitinggi. Budak-budak didatangkan dari penjuru Jawa. Goa Jepang di Bukitinggi hanya sebagian kecil terowongan tersebut yang sudah dinyatakan aman dibuka untuk umum. Ini baru konon, saya sih percaya saja, mengingat Bukitinggi adalah salah satu benteng pertahanan terakhir pasukan Jepang untuk mempersiapkan diri jika ada Agresi dari musuh-musuh perangnya.

Kota Batusangkar

Istana Basa Pagaruyung yang mengalami kebakaran di tahun 2007 telah dipugar kembali. Istana ini berdiri megah di Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Bangunan cantik yang berdiri di atas bukit serta memiliki tiga tingkat lantai ini merupakan istana kerajaan Pagaruyung yang dikuasai oleh Raja Adityawarman yang namanya sekarang diabadikan sebagai sebuah nama museum yang berada di kota Padang.

Halaman belakang istana ini cukup luas, ada persewaan kuda mengajak pengunjung berkeliling. Ngga benar-benar berkeliling sih hehe Cuma bolak balik di jalan aspal samping istana. Pohon-pohon besar berada di tepi sebuah kolam ( bekas pemandian??) yang mengajak pengunjung berteduh di siang hari yang terik, menggelar tikar, membuka bekal dari rumah, kemudian tertidur sampai sore. Saya memilih berkeliling dengan berjalan kaki menuju bangunan kecil yang berada di seberang kolam. Pengunjung bisa duduk-duduk santai di bangunan terbuka mirip balai-balai besar itu. Duduk dan memandangi bagian belakang istana. Tak hanya bagian depannya yang cantik, bagian belakang bangunan juga dipoles. Wajar istana ini begitu nampak cantik depan belakang kiri kanan, biaya pemugarannya saja konon mencapai 20 milyar rupiah. Duit semua tuh??? Saya menghabiskan sisa siang yang terik itu, duduk bengong di sebuah balai-balai terbuka, Kemudian melangkah ke parkiran dengan kulit terbakar.

basapagaruyung

Rumah Tuo Kampai Nan Panjang, rumah tua yang konon mencapai angka usia lebih dari 300 tahun ini berbilik panjang dan gelap. Bangunan yang tak berpaku itu masih berdiri kokoh, meski sudah sedikit miring karena beberapa kali dioyang gempa namun tiang-tiang kayunya masih tetap bertahan. Mungkin inilah kayu-kayu terbaik di muka bumi. Para rayap bertandang saja ogah apalagi gigitin tu kayu-kayu keras. Meski ruangan di dalamnya cukup gelap namun lantai dan dinding-dinding tuanya kering dan bersih terawat. Rumah ini dijaga oleh salah satu pewarisnya yang sudah memudar kemampuan dengarnya. Saya tidak banyak berbicara karena si empunya hanya mengerti sedikit Bahasa Indonesia.

rumahtuo

Jika memang berniat berkeliling batusangkar, sempatkan singgah ke peninggalan sejarah lainnya yang tak kalah tuanya. Batu angkek angkek. Batu yang diangkat-angkat. Jangan lupa berdoa dulu sebelum mengangkat batunya supaya berhasil, jangan lupa berdoa dulu sebelum berusaha, supaya usaha berhasil dengan baik. Kalau ga berhasil ya belum rezeky hehehe ….

Bersambung

angkek

Catatan Perjalanan :

Kulit terbakar memang resiko ketika melakukan tour di Sumatra Barat saat musim panas. Mendinglah daripada terserang flu dan demam plus kecewa jalanan becek kalau melakukan tamasya di musim hujan. Saya sudah mencoba dua-duanya. Dua-duanya punya sensasi yang berbeda.

Cuma satu kesamaannya, tabungan untuk jalan-jalan memang harus dihabiskan untuk beli bensin atau sewa mobil. Tempat-tempat bersejarah dan makanan-makanan terbaiknya ada di jalan-jalan pelosok. Sumtara Barat bisa dicapai dengan transportasi darat maupun udara. Jangan khawatir, Jalan trans Sumatra Tengah, Barat, dan Utara baik-baik saja. Naik Boing atau Naik Avanza Trans Sumatra…Sama Jet lag-nya. Driver merasa jadi pembalap kalau sudah nemu jalan raya trans Sumatra. Asal jangan merasa jadi Pilot saja kemudian menerbangan mobil tak bersayap seenaknya. Biar ngebut agar cepat sampai tapi tetap jaga keselamatan di jalan.

Selamat berburu dan pastinya anda akan pulang dengan cerita yang berbeda dengan tulisan ini.

transsumatra

3 Thoughts to “Tamasya Kuli Sinyal Bagian 3 : Naik Boing atau Naik Avanza Trans Sumatra…Sama Jet lag-nya.”

  1. sy martin

    Foto batu angkek-angkeknya ga nahan.. Keren abis… Wakakakkaka… Salam 2 jari hati tetap 1….

    1. Heeeeeh malah kode…. hadeeeeh >_<

  2. 11 tepatnya ndes… (skala 100) ;p

Leave a Reply