Platinum Frequent Flyer!

 

Sekarang semakin banyak maskapai penerbangan murah (LCC – Low Cost Carrier) yang menawarkan begitu banyak rute penerbangan domestik baru. Kini, setiap orangpun bisa terbang (nyrempet sedikit dari jargon salah satu maskapai LCC).

Terus terang saya malas menggunakan maskapai penerbangan murah. Memang sudah dipastikan label LCC didapat bukan karena maskapi memangkas biaya perawatan pesawat. Anda tidak perlu khawatir. LCC hanya mengurangi standar service seperti makanan, call center, check in di counter, senyum ramah kru pesawat (mungkin, mengingat salah satu LCC terkenal punya pramugari yang alamak! Judesnya),  termasuk pemanggilan boarding tanpa TOA yang seringkali menyebabkan penumpang tidak “ngeh” tahu-tahu pesawat udah take off…ah!!

Kadang kala di musim liburan (peak season) harga tiket LCC untuk rute domestik juga ga murah-murah amat … 11-12 lah sama maskapai premium (Kalau internasional memang jauh lebih murah). Apalagi belinya dekat-dekat hari H. memang disarankan untuk para backpacker atau traveler pelit untuk membeli tiket jauh-jauh hari, tapi untuk konsumen seperti saya, mana saya tahu 6 bulan lagi, atau tahun depan Home Base saya akan pindah ke mana…Apalagi kalau sudah ada tiket, sepertinya traveling itu menjadi sebuah kewajiban yang harus ditepati. Kalau pas lagi males jalan???? Tiket yang sudah dibeli, meskpiun murah (dan sulit di order karena websitenya overload ketika jutaan orang surfing nyari tiket murah dalam waktu yang bersamaan), sayang juga untuk dibuang. Akhirnya dalam keadaan bokek terpaksa ngeluarin budget akomodasi dan bikin rute perjalanan (yg kadang jadi mengada ada).

 

Kesalnya lagi kalau ada kambing masuk pesawat.

Saya : emang kambing mau lo taruh di mana??????

Pemilik kambing : “ya kan kambingnya saya belikan tiket penumpang mbak”

Saya : “lo pikirrrrr kita nampak hebat gitu duduk bertigaan sama kambing di jok yang sempit itu???

Pemilik kambing: “ngga sih mbak”

Saya : “lo pikir pramugari bisa evakuasi kambing?????”

Pemilik kambing: “ngga juga sih mbak”

Saya : ‘trus kenapa lo bawa kambing?????”

Pemilik kambing : “ya ngetes aja Mbak, kali aja bisa masuk nih kambing dengan bawa KTP dari mas-mas calo di depan”

Saya sangat tidak sarankan untuk terbang dengan tiket yang bukan milik anda, meskipun di gate SERINGKALI LOLOS!!!

 

Tapi yang paling bikin males naik LCC adalah delaynya itu loooo …. Delay 1 jam sudah biasa, Delay 2 jam lumayanlah kotak snack berisi roti keras mulai dibagikan, delay 3 jam masih bisa disabarkan jika  1 jamnya diganti dengan duduk menunggu di dalam pesawat. Ada lagi delay lebih dari 5 jam untuk rute Pekanbaru – Batam…..ini mah batal namanya bukan delay hehehe….silahkan menuntut 300 ribu untuk ganti rugi (ganti rugi akibat delay dengan alasan tertentu sudah diatur oleh Undang-Undang)

Harga murah, dipesenin, dibayarin, dianterin cocok untuk saya yang lagi lemas setelah seminggu goler-goler di kamar VIP sebuah rumah sakit di Jakarta. Begitu dokter mengizinkan saya pulang, saya memilih langsung terbang ke Bali. 2 jam lebih bermacet-macet ria di hari Seninnya Jakarta tak mengurungkan semangat saya untuk pulang. Tak lupa service kursi roda gratis di bandarapun saya pesan (meski harus menunggu satu jam lebih untuk sebuah kursi roda). Namun apa daya, tiket yang saya pegang hanyalah LCC maskapai lokal, Delay 3 jam tambah 1 jam lebih menunggu di dalam pesawat membuat saya benar-benar….lemaaaaaaaas…. 12 jam adalah waktu tempuh Jakarta – Denpasar terpanjang yang pernah saya alami. Saya sarankan bagi yang habis mabok infus untuk tidak menggunakan LCC lokal. Lain kali saya akan menyesuaikan waktu terbang bangku gratis Platinum Frequent Flyer saya saja…. 🙁

 

Catatan Perjalanan :

Kali ini saya ingin memberikan gambaran dari sudut pandang “penumpang nyaman”. Dipindah ke kelas bisnis, permintaan maaf dari Manager Operasional (kalau ga salah) karena penerbangan yang dipindah atau delay yang tidak diberitahukan sebelumnya, sampai mendapatkan kursi gratis di peak season hanya beberapa cerita. Duduk di lounge bersih dan penuh makananpun menjadi pilihan kenyamanan seorang yang (terlalu) sering menggunakan fasilitas bandara. Iuranpun tak enggan dibayarkan (untuk pemegang frequent flyer berbeli). Kadang harus membeli tiket yang dirasa terlalu mahal adalah menjadi salah satu cobaan sebuah perjalanan. Bayangkan untuk membeli kenyamanan (dan menghilangkan ketakutan akan terbang) selama beberapa jam (bahkan menit) penumpang harus merogoh kocek ga tanggung-tanggung. Kalau budget traveler bertanya “ngapain sih ngabis-ngabisin duit Cuma buat makan gratis, ruang tunggu nyaman, dan duduk beberapa menit di kursi empuk bin lebaaar di pesawat???” dan seorang premium traveler akan balik bertanya “buat apa traveling kalau hanya utk merasakan beberapa jam ketidaknyamanan yang berujung dengan kekesalan bahkan maki-maki???”.

Bagaimanapun juga, dunia penerbangan kita tengah berbenah. LCC nampaknya benar-benar ingin membuat setiap orang bisa terbang dengan menawarkan penerbangan dengan biaya yang murah. Dan alangkah baiknya para calon penumpang bisa menjadi lebih cerdas. Membeli tiket maskapai premium atau low cost carrier adalah pilihan penumpang yang pastinya akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing. Mari mengedukasi diri dengan mengetahui tindakan-tindakan yang patut diambil jika terjadi permasalahan-permasalahan yang mengakibatkan kepentingan penumpang tidak terpenuhi dengan baik.

 

salam mebading

 

freqflyer1

6 Thoughts to “Platinum Frequent Flyer!”

  1. Udah cukup ya ditinggal pergi pesawat tanpa pengumuman PA & ga dapet kompensasi apa-apa, di negara orang pula 🙂 Saatnya travel smart, demi kenyamanan & keamanan.

    1. Ampun Pak …. LCC – semakin sengsara ceritanya semakin menggemaskan -__-

      1. Reggie

        I read your post and wieshd I was good enough to write it

    2. Christiana

      None can doubt the verciaty of this article.

  2. maceeeet…di darat, laut, mupun udara ….

    1. Nollie

      Thkining like that shows an expert at work

Leave a Reply