DAS (Daerah Aliran Sungai) Singapura

 

Sudah belasan kali saya mengunjungi Negara kecil super padat  ini. Saking padatnya saya membayangkan bagaimana seandainya Singapura tidak punya gedung bertingkat, basement, atau terowongan bawah tanah?? Mungkin seluruh lahan Negara tidak akan cukup untuk menampung semua penduduknya. Mungkin saja …belum ada yang pernah mencoba “ngejejerin” seluruh penduduk Singapura di atas tanahnya kan???? 😀

 

Meskipun sudah belasan kali ke sana, masih saja saya tertarik untuk mengunjunginya. Walaupun hanya sekedar untuk duduk di river side alias pinggir sungai. Yaelaaah… di pinggir Sungai Siak juga bisa kali. Yah …saya ingin jadi manusia biasa yang ingin melakukan hal yang tidak sekedarnya. Duduk bengongpun bisa dilakukan tidak sekadar duduk bengong kan?? 😀

 

Pembaca : “jadi bengong di pinggir sungai siak adalah hal sekedarnya???”

Buat saya iya. Selain sekedarnya, hal itu juga tidak wajar. Logikanya saya jadikan seperti ini :

Bengong di river side-nya Singapore = wajar = waras

Bengong di DAS (Daerah Aliran Sungai) Siak = tidak wajar = tidak waras

 

Sebut Saja Singapore River (kalau di Indonesia, sungai selebar kurang dari 200 meter seperti ini disebut kali), adalah salah satu Sungai yang paling terkenal di Singapura. Singapore River yang dulunya memang merupakan pusat perdagangan kinipun menjadi sentra bisnis dan keungan negara ini. Selain menjadi sentra bisnis, Singapore River merupakan salah satu ikon negara yang dijadikan obyek wisata.

 

Wisata sungai di Singapore River sangat populer. Kita bisa menikmati “Daerah Aliran Sungai” yang sangat rapi dan terawat. Perahu wisata berlalu lalang di sepanjang sungai wisatawanpun bisa berjalan-jalan di pingir sungai. Bangunan-bangunan konservasi maupun gedung-gedung modern berdiri berdampingan di sepanjang sungai, termasuk Merlion, Mermaid Lion yang menjadi ikon Singapura juga berdiri di Marina Bay, Teluk yang dibuat dekat Singapore River. Wisata Sungai Singapore River digelar dari Marina Bay sampai Jembatan Jiak Kim. Rute susur sungai melalui Merlion Park, dibawah Jembatan-jembatan seperti Anderson, Cavenagh Bridge, dan Jembatan tua Elgin Bridge yang dibangun tahun 1929, Patung Raffles, Gedung Parlemen, dan Clarke Quay. Jika anda ingin melihat semuanya dalam waktu 1 iam, anda bisa membeli tiket boat. Tiketnya berkisar SGD 13 dengan waktu tempuh bolak – balik ke Port Marina Bay sekitar 45 menit.

SingRiver1

 

Kalau anda tidak terburu-buru lebih baik jalan kaki saja menyusuri pinggir sungai. Bonus “pemandangan” jika anda berjalan-jalan sore di hari Sabtu atau Minggu ;). Di Belakang Fullerton Hotel anda akan menemukan Asian Civilisations Museum, semua sejarah Singapura ada di sana. Bahkan saya menemukan pecahan relief dinding Borobudur di sana. Tepat di belakang bagunan Fullerton Hotel ada Jembatan yang hanya bisa dilalui pejalan kaki atau sepeda. Anda bisa menyusurinya jembatan untuk dapat menyeberangi sungai dan sampai tepat di depan gedung Museum. Tiket masuk museum sekitar SGD 8. Di museum ini seringkali diadakan pameran koleksi  sejarah dari negara-negara lainnya. Kali ini saya beruntung melihat koleksi seni kuno dari Cina.

SingRiver2

Sungai terbesar di Singapura ini merupakan bagian dari jalur perdagangan dunia. Tak heran sungai inilah yang menyimpan sebagian besar sejarah pertumbuhan prekenomian di Singapura, termasuk menjadi tempat pendaratan pertama Bapak Raffles di Singapura tahun 1819 (yang ini baca Wikipedia). Seperti nasib Sungai-sungai pada umumnya, Singapore River juga tak luput dari korban urbanisasi dan polusi. Apalagi pada tahu 1800an Singapore River menjadi jalur transportasi dan perdagangan terpadat di Singapura. Singapura khususnya Singapore River mengalami polusi air yang cukup parah akibat industri dan peternakan. Saking parahnya sampai pemerintah mengeluarkan himbau kepada warga negaranya untuk tidak memanfaatkan air sungai kalau tidak mau terserang penyakit kulit. Sampai pada akhirnya di tahun 1970an Pemerintah Singapura merencanakan proyek pembersihan sungai secara besar-besaran. Tahun segitu kayaknya kita lagi gecar-gencarnya buang sampah ke kali kita yang indah yah… 😀

 

Ini cerita yang paling mengesankan yang saya dapat di Museum. Perdana Mentri Singapura ketika akan memulai proyek pembersihan Singapore River memberikan sebuah seruan :

“In ten years let us fishing in Singapore River”

Lebih terdengar seperti sebuah komitmen ketimbang sekedar ambisi. Singapore River ketika itu nampak seperti TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sampah bejibun, pendangkalan sungai sangat parah, sedangkan lalu lintas di sungai sangat padat. Tetapi  komitment pemerintah dan masyarakat Singapura untuk mempunyai tempat tinggal dan air bersih kala itu memang sangat kuat. Proyek pembersihan sungai dimulai pada tahun 1977. Berton-ton sampah diangkat dari sungai. Tidak hanya itu, pemerintahnya juga membangun infrastruktur untuk mendukung pembersihan Singapore River. 10 Tahun kemudian semuanya bereeeees…..kini orang Indonesiapun manyunnya jauh-jauh ke Singapore River … iya kaaaaan..hehe…

 

Seandainya Presiden kita pada suatu Minggu pagi yang cerah tiba-tiba berseru : “Sepuluh tahun lagi kita sudah bisa mancing di Ciliwung dan 12 Sungai lainnya yang bermuara di Teluk Jakarta” aduh senangnya. 10 tahun lagi saya ngga akan buang-buang duit ke negara tetangga kalau hanya untuk untuk bengong di pinggir kali 😀

SingRiver3

Leave a Reply