Dari Sumedang Sampai ke Singapura, Hotel-Hostel-Kandang Kaya Rasa Kaya Warna

 

Safari Hotel-hotel sudah menahun saya lakukan. Dari hanya sekedar singgah untuk tidur sampai untuk tempat peristirahatan yang lumayan panjang. Dari yang dibayarin kantor, bayar sendiri, sampai hadiah dari usaha – usaha yang sudah saya capai yang katanya adalah prestasi…terserah apa sebutannya….yang jelas saya selalu menikmatinya dengan berbagai cara … 😀

 

Suatu Sore di Sumedang, Asam Getir Kuli BTS, Yang Termanis Adalah Tidur di Atas Kandang Kambing.

 

Ketika saya mendapatkan hotel yang tidak saya harapkan keadaannya, maka saya akan mengembalikan ingatan saya ke beberapa tahun lalu di Sumedang. Sambil berkata dalam hati, ini jauh lebih baik daripada waktu itu …. di Sumedang sana….. 😀

 

Beberapa kali membaca tentang suku-suku di pedalaman papua yang tidur dengan ternak peliharaannya. Sebut saja babi yang sepertinya wajib dimiliki setiap kepala keluarga di sana. Sebagian dari mereka, tidur dengan hewan ternak adalah sebagian rasa pengungkapan rasa syukur yang kelak akan membawa rezeky. Dan pada suatu waktu saya bersyukur ternak orang jawa barat bukan babi tetapi kambing.

 

Sumedang di suatu senja hari, minivan abu-abu terseok penuh dengan muatan. Saya tengah berada di pedalaman Jawa Barat, menghidupkan BTS milik salah satu perusahaan operator Telekomunikasi terbesar di Negeri ini. Towernya hampir selesai, tinggal puncaknya yang belum di cat. Kuli-kuli tower bertengger dan bergelantungan di atas tower, bak burung mereka berayun-ayun. Sore itu adalah suatu sore yang sibuk.

 

Kuli-kuli BTS Telekomunikasi seperti kami selalu sigap mencari tempat perisitrahatan, ya kami ogah tidur di hotel minivan yang penuh sesak dengan barang-barang dekil. Salah seorang pejabat desa menawarkan tempat menginap selama kami bekerja di sana. Ketika itu kami berlima, dan saya perempuan sendiri. Bapak Kepala Desa menawarkan kamar anak gadisnya yang sudah tidak tinggal di rumah.

“Tidur di sini saja, Neng. Kasihan atuh kalau mesti tidur di mobil atau di site”

Saya mengangguk dengan senang hati, kawan-kawan saya yang memang benar-benar senang.  Ada perempuan di Team mereka memang membawa suatu cerita yang menyenangkan..hehehehehe…saya ngga GR karena sudah menanyakan hal ini kepada mereka dan itu memang benar adanya (suka-suka sayalah nulis apa 😀 )

Hari itu saya mendapatkan kasur di dalam kamar gratis, kawan-kawan saya juga. Kasur mereka berjejer di ruang tengah. Sekarang saya tahu keuntungan menjadi perempuan…kikikikiki…

 

Rumah Bapak Kepala Desa tinggi dan berkolong layaknya rumah panggung pada umumnya. Waktu kecil saya sering mengkhayal pemilik rumah panggung memelihara naga di kolong rumahnya. Tapi buku IPS ternyata menyebutkan manfaat yang lain. Kolong rumah panggung seringkali dipakai untuk mengandangkan hewan ternak. Semoga saja benar, karena ini kali pertama saya menginap di rumah panggung di pedalaman.Dan saya tahu naga itu tidak ada, minimal tidak ada di bumi 😀

 

Malam di hari pertama saya sungguh bersemangat untuk berangkat tidur lebih awal. Istirahat setelah seharian lelah berbicara dengan mesin. Saya pamit duluan dan segera merasakan tidur di rumah panggung. Aneh rasanya, tidak seperti tidur di rumah bertingkat. Saya merasa berada tidak jauh dari tanah, dan ada yang bergerak di bawah lantai papan. wooooowwww….. ada yang bergerak di bawah lantai papan. Saya terjaga, dan berharap itu bukan maling, apalagi naga. Saya selalu tidur dengan jam tangan. Tepat pukul 10 malam, mahluk-mahluk itu terus saja bergerak dan semakin riuh. Di tengah kebingungan menebak dalam gelap, akhirnya merekapun mengembik. Mengembik keras-keras dan berbarengan, ada tiga atau lima ekor saya rasa. sedang bercengkrama (mengembik) riang di bawah tempat tidur saya….. Kini saya tahu saya sedang tidur di atas kandang kambing 🙂

 

Saya tidak tahu waktu tidur para kambing. Setiap hari saya mengalami sulit tidur karena kambing-kambing itu bersenda gurau sampai jauh malam. Setiap hari sehabis bekerja saya memilih bercengkrama dengan kawan-kawan sampai jauh malam. Tapi kami terlalu lelah untuk tidak berisitirahat. Dengan terpaksa saya melangkah dan tidur di tempat tidur saya, sambil beradu argument dengan kemodernan saya mengapa saya harus tidur sambil mendengarkan kambing-kambing bercengkrama.

 

Entah kapan kambing-kambing itu tidur. Pada siang hari mereka harus makan, mengunyah rumput yang saya rasa sangat sulit dikunyah walaupun gigi mereka adalah penggilas rumput terbaik di dunia. Mereka masih harus berlari-larian di padang rumput desa yang luas, atau digembalakan di telaga sepuasnya. Mungkin mereka terlalu gembira di kehidupannya sehingga tak ingin buang waktu dan menghabiskannya  dengan tidur. Sedangkan saya??? Saya sudah terlalu lelah di siang hari, dan benar-benar kesal tidak bisa tidur di malam hari. Sekarang saya berharap saya menjadi laki-laki saja sehingga bisa tidur berjejer di ruang tengah 😀

 

Kebanyakan manusia modern mirip seperti saya, atau saya sudah menjadi seperti manusia modern??? Manusia modern tidak akan pernah berteriak “diaaaam!!!!” apalagi kepada kambing. Saya adalah manusia modern, bekerja sebagai kuli teknologi, dan secara paralel tidur di atas kandang kambing adalah hal yang tidak masuk akal.

 

Tetapi bagaimanapun juga, saya masih merasa bersalah telah menurunkan tulisan ini. Setelah ditelusuri lagi, akomodasi kelas kambing itu ternyata saya dapatkan gratis, tanpa biaya sepeserpun, hanya kebaikan hati seorang pemuka desa yang menyelamatkan kantong-kantong cekak kuli-kuli seperti kami. Saya masih ingat, di hari kelima kami memutuskan untuk kembali ke Bandung, padahal pekerjaan kami belum selesai. Apa sebab?? Karena kami sudah tidak ada dana cukup untuk operasional 😀

 

Terimakasih Bapak Kepala Desa. Akomodasi kelas kambing akan selalu kukenang.

 

hotel6

 

Hard Rock Hotel Bali, Memang Harus Sangat Amerika,

 

Sebenarnya saya tidak pernah menginap di hotel ketika pulang ke BALI. Jadi ketika saya terpaksa harus menginap di hotel, saya akan menganggap itu bukan suatu perjalanan yang mengantarkan saya ke rumah, melainkan perjalanan lainnya yang mengantarkan saya ke tempat-tempat wisata.

 

Hard Rock Hotel Bali tidak berbeda jauh dengan hotel berbintang lima lainnya yang ada di Indonesia. Hanya kali ini saya merasa tidur di tepi pantai yang lembab. Hard Rock memilih membangun kamar-kamar hotelnya di bawah tanah, mengingat di Bali tidak diizinkan untuk membuat bangunan terlalu tinggi. Bangunan tidak boleh lebih dari lima lantai!! Selain sarapannya yang maknyus dan restorannnya yang menggantung dendeng serta sosis babi secara bebas, yang saya sukai dari hotel ini adalah lobbynya yang setiap malam selalu dihidupkan oleh live music a la Hard Rock. Lumayan untuk pengantar tidur.

 

hotel3

Hard Rock tidak bisa dikatakan “terlalu bergaya Amerika” karena Hard Rock memang harus bergaya Amerika. Tempat ini tidak menjadi spesial krena tidak ada bau Amerika yang harus saya buru di tempat yang bukan di tanah Amerika. Suatu hari saya pasti akan menginjakkan kaki saya di sana, di tanah kelahiran para super hero dan serial TV favorit saya waktu masih di bangku sekolah, dan benar-benar menikmati bau Amerika yang sesungguhnya (efek kebanyakan nonton Serial TV McGyver)

 

 

  hotel2

 

  

Padang, Berburu Hotel Berdinding Tidak Retak.

 

Ada puluhan (kalau tidak mau dibilang ratusan) hotel yang saya injak di Sumatra. Ada yang hanya Cap Bintang Empat tetapi ternyata hanya begitu-begitu saja, Ada yang pegawai restorannya Sok Kenal Sok Dekat dan tahu-tahu minta diajak ke Bali untuk dipekerjakan…hehehehe….sampai saat ini saya tidak pernah lagi kembali ke hotel yang berada di Palembang tersebut. Bukan karena takut, tapi karena eneg sama sarapannya yang ngga pernah diganti baik menu maupun posisinya di meja hidang selama dua minggu tinggal di sana.

 

Ada lagi cerita dari salah satu hotel bintang tiga di Palembang. Hotel tersebut terletak di pinggir parit, dan ramenya minta ampun. Saya juga heran kenapa orang-orang suka tinggal di hotel tua tak berjendela itu. harganyapun sedikit lebih mahal daripada hotel SKSD di atas. ya kebanyakan memang tamu korporat, rupanya hotel ini menjalin hubungan baik dengan banyak korporat (entah karena hotel lama atau gampang diutangin hehehehe). Saya teringat di hari terakhir saya menginap di sana, room service masuk kamar pada jam tamu masih harus bersolek sebelum ke kantor, tanpa izin, tanpa basa basi, langsung mengobrak abrik sepre dan membersihkan kamar sambil manyun. Saya diam saja sambil terbengong-bengong bego. It is a real story..hahahaha…Segera beberes, menutup koper dengan paksa, lalu saya segera ngacir. ogah ambil resiko kalau-kalau orang ini bawa golok dipunggung….hiiiiiiiiiiiii…….wong kito gilo!!! 😀

 

Lain di Palembang lain juga di Padang. Hotel di Padang lebih sering diperuntukkan untuk wisata dan selalu penuh ketika long week end atau ada perhelatan besar seperti Tour de Singkarak yang digelar setiap tahun. Namun Padang lebih banyak punya alternatif  tempat peristirahatan. Ada pulau-pulaunya yang menyediakan cottage-cottage murah, ada daerah-daerah Padang coret yang bisa dijangkau tidak lebih dari 1 jam dari pusat kota Padang, atau jika memang ingin menginap di pusat kota, kita bisa mencari rumah-rumah yang disulap menjadi family hotel.

 

Saya senang pariwisata di Padang mulai bangkit lagi. Bencana gempa besar yang beberapa melanda Sumatra Barat cukup menorehkan cerita panjang, Sumatra Barat sempat dipaksa tertidur dalam cantiknya. Sebut saja Hotel Ambacang yang tinggal puing ketika diguncang gempa tahun 2010. Puing Ambacang yang dulu terbengkalai sekarang sudah didirikan hotel baru.

 

The Rocky Hotel Padang yang sempat vakum selama dua tahun kini seringkali penuh karena tematnya memang sangat strategis dan sepertinya berharga miring untuk golongan hotel bintang tiga. Hotel Pangeran Beach punya kolam renang yang menghadap ke pantai yang sepi. Saya menikmati salah satu week end saya di sana, meski lebih menikmati berada di luar kamar dibandingkan di dalam kamar hotel. Bukit barisan berwarna keemasan jika fajar menyingsing. Sore hari kita bisa berjalan-jalan di sekitar jalan komplek perumahan penduduk yang memang tidak jauh dari lokasi hotel, menyusuri pantai yang tidak begitu ramai, karena pasirnya pasir hitam mungkin, atau memang pantai di dekat hotel kebetulan tidak dijadikan spot nongkrong. Spot nongkrong dibuatkan di taplau sana, tapian laut, tempat warung-warung makan sea food super mahal digelar, dan tenda-tenda ceper yang entah didirikan sejak kapan. Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai bergeser tidak memandang tempat. Namun sayang kamar Hotel berbintang empat ini memang agak kuno dan kurang perawatan. Kamarnya berlantai marmer kuno, dengan bath tub yang tidak putih lagi, serta cermin di dinding yang betul-betul membuat suasana tambah angker. Ah …. tidak terlalu angker tapinya jika dibandingkan dengan suasana kantor, apalagi ketika target tidak tercapai 😀

 

Banyak lagi hotel-hotel kecil di Padang yang justru menawarkan kenyamanan dan suasana kekeluargaan yang lebih. Sebut saja Hotel Mervit, hotel kelas dua yang menawarkan lotengnya sebagai kamar yang cukup bersih untuk backpacker atau pekerja-pekerja kantor yang hanya tinggal di Padang untuk beberapa saat. Hotel Rumah Nenek juga cukup terkenal, selain itu ada Hotel Ion yang yaaah…lumayan bersih (dan sangat murah) untuk ditinggali sehari dua hari. Saya seringkali mencari hotel-hotel kecil seperti ini jika sedang bertugas keluar kota. Kebanyakan memang tidak pernah menjalin kerjasama dengan korporat apalagi perusahaan asing. Memang sedikit repot apalagi hanya untuk tinggal satu atau dua hari. Tapi jika harus tinggal untuk beberapa minggu saya layak mendapatkan suasana  dan kenyamanan yang lebih dari sekedar menginap di hotel-hotel mahal yang fasilitasnya memang begitu-begitu saja. Ada uang ada rupa memang benar, tapi ada uang ada rasa tidak selalu anda dapatkan.

 

 

Selamat Pagi Singapura dan Dada-dada Bidang 😀

 

Saya ingin  merasakan tidur di bilik-bilik tentara, sampai saat ini belum kesampaian.Untuk mendapatkan sedikit suasananya, saya memilih mencoba tidur di hostel yang menawarkan dormitory di Singapura.

Group kecil kami beranggotakan kawan-kawan sekelas di kampus. Kami terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok koper dan kelompok ransel. Ini tidak kebetulan. Ketika itu saya memang ingin mencoba menginap di hostel dormitory, satu kamar 8-16 tempat tidur. Akhirnya saya mendapatkan cukup informasi tentang sebuah hostel yang terkenal dan sering disinggahi backpacker dunia. Saya teringat cerita gagal saya mendapatkan kamar hostel di Singapura…hal ini tidak akan terulang lagi hehehehee….(baca : Bujang-Bujang Kaya Tanpa Credit Card). Lain dengan kelompok koper, mereka memilih menginap di hotel mahal yang berada tidak jauh dari hostel kami.Bisa anda bayangkan senangnya kami mendapat hostel yang harganya seperduapuluh dari harga kamar kelompok koper, dan hostel kami hanya 100 meter dari hotel elit itu 😀

 

Shopahouse Hostel, terletak di Arab Street. Saya merekomendasikan kamar 16 bed mix dormitorynya yang penuh dengan pria-pria idaman. Hehehehehe … tidak akan terjadi sesuatu karena memang tidak dimungkinkan. Terjadi sesuatu ini adalah kebakaran, perampokan, atau hal-hal lain maksudnyaaaaa …. 😀 Ketika itu kami sampai di hostel saat tengah  malam, sekitar jam 1 dini hari. Check in kami lakukan sendiri karena memang pemilik hotel yang merangkap resepsionis lebih memilih tidur nyenyak ketimbang menunggui tamunya yang belum tentu datang. Toh sudah dibayar lewat Agoda, ga masalah jika memang tamu tidak jadi datang. Kami mendapati nama kami tertulis di sebuah kertas yang tergantung di meja resepsionis. Di sana sudah ditulis nomor telpon yang harus dihubungi. Pemilik menginstrusikan melalui telepon apa saja yang harus kami lakukan supaya bisa masuk ke dalam hostel. Kami menemukan kunci akses, kunci locker, dan nomor bed yang kami sewa. Masuk dengan sukses, Bangunan itu tidak lebih daripada ruko yang disulap menjadi hostel.

Kamar 16 bed mix ada di lantai 3, kamar 8 bed khusus untuk perempuan ada di lantai 4. Saya memilih tidur dekat kawan-kawan saya, sehingga saya memilih kamar mix. Yang paling penting ketika menginap di dormitory adalah jangan sampai salah kamar dan salah tempat tidur. Anda tentunya tidak mau dibangunkan subuh-subuh oleh tamu lainnya karena telah tidur di tempat tidur yang salah 😀

hotel4

 

 

Tidak banyak yang bisa anda harapkan dari hostel dormitory. Kamarnya sudah pasti penuh sesak, tempat tidur super sempit, tetapi berbagi kamar dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia beda rasanya. Saya dan kawan saya mendapatkan tempat tidur di ujung ruangan. Kasurnya berlapis plastik untuk menjaga kebersihan. Ada fasilitas loker kecil untuk menaruh barang-barang berharga, dan yang paling saya sukai dari tempat ini adalah kamar mandi bersama yang super bersih. Jejeran kamar mandi yang penuh dengan petunjuk – petunjuk. Petunjuk air panas, petunjuk tempat handuk kotor, plastik-plastik kecil untuk sampah, dan anjuran yang ditulis besar-besar untuk menjaga kebersihan demi kepentingan bersama. Saya membawa peralatan mandi sendiri, jadi saya tidak usah khawatir dengan petunjuk-petunjuk itu.

 

Saya agak sulit tidur dengan plastik melapisi kasur saya. Tapi secara keseluruhan saya puas dengan hostel seratusan perak ini. Riuh ramai masih sampai larut malam terdengar dari lantai atas, kamar khusus wanita. Saya beruntung memilih kamar mix ini. Tempat ini memilih untuk diam karena penghuninya terlihat memang butuh berisitirahat sejenak. Dan cuma di sini ketika membuka mata saya melihat hamparan dada-dada bidang para traveler yang sedang tidur…hehehehehe serasa di camp dunia…Pemandangan selanjutnya tidak usah saya detailkan… 😉

 

Pada akhirnya saya buru-buru beranjak ke kamar mandi, beberes, lalu pergi untuk melanjutkan perjalanan… meninggalkan tempat asing yang sesak itu. Saya hanya cukup merasa tahu. Saya tetap memilih kamar-kamar khusus yang menghadap ke gedung-gedung cantik, diselimuti oleh sinar matahari terbenam.

Masih banyak cerita saya tentang hotel-hotel tempat saya singgah. Cerita kali ini saya selesaikan di halaman ke tujuh.

 

Salam mebading

 

hotel1

 

Catatan Hotel :

I Can Wait Forever, But Not The Hotel. Terusir di Jogja dan Batam.

 

“Terusir” dari hotel adalah hal yang biasa terutama untuk perjalanan-perjalanan group. Jangan terlalu percaya anda bisa betul-betul check in jika belum memasukkan barang-barang anda ke dalam kamar.

 

Ketika itu kami sedang ada kelas jauh di Jogjakarta. Tiba-tiba pada hari H pihak hotel mengatakan tidak bisa check in karena hotel sedang dalam masa perbaikan. Hahahahahahahaha….. saya malas bercerita lebih jauh tentang hotel di jogja ini. Adalah 25 orang mahasiswa terbang akhirnya terpaksa dipindahkan ke hotel lain.

Hal serupa juga terjadi waktu saya mengadakan perjalanan bisnis di Batam. Karena sampainya kepagian, kami hanya diizinkan menitip barang. Seperti hotel pada umumnya, proses check in baru bisa dilakukan setelah jam 12 siang. Alhasil kami menitip barang-barang ke 25 orang tamu kami. Tapi apa yang terjadi?? Jam 6 sore, ketika kami masih khusuk meeting di luar, tiba-tiba pihak hotel mengabarkan kamar penuh dan hanya tersisa 6 kamar yang cukup untuk 12 orang. Padahal saat itu kami memegang voucher travel sebagai “boarding pass” yang sah untuk masuk hotel. Tapi pihak hotel berdalih bahwa agen travel yang mengeluarkan voucher belum mengadakan kerjasama dengan pihak hotel. Intinya sih kamar kami sudah dijual…bilang gitu aja ribet! Mau ngga mau kami memindahkan barang kami tanpa bertemu dengan pihak manajemen hotel.

Cerita seperti ini tidak jarang bisa kita temukan di pusat-pusat pariwisata di Indonesia. Oknum-oknum seperti beranggapan “ga terlalu masalah mengecewakan 25 orang tamu lokal karena Indonesia masih punya 239.999.975 penduduk lainnya yang mau menginap di hotel ini”

 

Malam itu kami menginap di hotel berbintang kejora di Batam. Syukurlah hotel tersebut jauh lebih bagus dan lebih ramah. Sayang kamar yang tersedia cuma 1 malam. Malam berikutnya kami pindah ke Novotel Batam (yang malam sebelumnya memang penuh gilak!). Mata berkunang-kunang, lelah dan kesal. Karena check in tanpa voucher dari agen memaksa kami untuk menggesek kartu kredit yang sudah lecet.

 

Leave a Reply