5 Tiket Jadi 10 Tiket : 12 Jam Terpukau di Langit Kamboja, 12 Jam Susur Vietnam, 12 Jam di Kuala Lumpur, Tambahkan 1×12 Jam Lagi untuk Sebuah Kisah Memilukan (Memalukan) Traveler yang Ditinggal PILOT

 

 

Kisah ini berawal dari keinginan saya mengunjungi Kamboja dan Vietnam, Negara tetangga yang baru bisa “menggeliat”, yang jaraknya hanya selangkah dari Negara kita… Selangkah pesawat berbadan lebar milik MASKAPAI PENERBANGAN RAJA MURAH membawa saya terbang ke bandara-bandaranya.

 

12 Jam Terpukau di Langit Kamboja

Kamboja adalah Negara tetangga yang saya tidak habis pikir mengapa Orang Indonesia menamainya dengan nama Bunga, padahal tidak ada pohon Kamboja di sana. Saya tidak tahu, di kuburannya mungkin ada…saya tidak berwisata ke kuburannya. Lambang, bendera, dan bahasanya tidak ada menyebutkan nama negaranya Kamboja. Hanya sebutan dari Orang Indonesia saja ???

 

Tidak tahu, begitu pula bapak saya, Beliau tidak menyebutkan mengapa negara ini disebut KAMBOJA. Beliau hanya menjelaskan panjang lebar sehingga yang terlintas di benak anak SMP adalah Negara ini tidak lebih beruntung dari Indonesia….. iyakah tidak lebih beruntung? Itu sudah berlalu belasan tahun yang lalu. Kalaupun sekarang saya ingin melihatnya langsung, mungkin saya tidak lagi menemukan hal tersebut.

 

Kalau dilihat dari Peta, Kamboja berbagi daratan dengan Vietnam, Laos dan Myanmar, dekat sekali dengan Indonesia memang. Tapi Tak pernah sedekat sekarang, dimana Maskapai Penerbangan Raja Murah semakin gencar membuka jalur-jalur penerbangan yang sebelumnya sulit di peroleh dengan harga terjangkau.

 

Pesawat Maskapai Raja Murah yang saya  tumpangi bertolak pada Pukul enam pagi, dari Kuala Lumpur menuju Kamboja, ketika itu hujan lebat, langit gelap, tapi tidak begitu dengan hati saya…ihiiiiw…. Saya memilih terbang ke kota Siem Reap karena tujuan saya memang mengunjungi Angkor Wat, Candi Megah yang sudah menjadi warisan dunia nomor sekian, yang dibangun zaman dinasti Angkor. Angkor Wat terletak sekitar 10 Km dari pusat kota Siem Reap…keterangan lebih lanjut bisa anda unduh di Wikipedia karena saya bakal sangat sibuk  dan senang pada 12 jam ke depan… 🙂

 

Sudah lama saya sangat ingin melihat Angkor Wat. Peninggalan-peninggalan dari masa lalu selalu membuat pikiran bertanya-tanya, bagaimana manusia bisa hidup sebelumnya? Tanpa gadget, Televisi, dan blog??? Tahan gitu??? Candi-candinya mirip dengan Prambanan, namun sungguh beruntung Kamboja, di sana tidak ada gempa yang membantai bangunan-bangunan indah ini. Tidak seperti Candi Prambanan yang bernasib tragis….

 

 

Angkor Wat bisa disusuri dengan menyewa mobil, tuk tuk, ojek, atau sepeda… karena luasnya konon sampai 1.5 ibu kota Negara kita. Beberapa ada yang sudah benar-benar runtuh, beberapa kompleks candi sedang berusaha diselamatkan dengan terus melakukan konservasi terhadap bangunan-bangunannya. Mungkin beberapa sudah tidak asli tapi tetap eksotis bagi saya. Angkor Wat seperti kompleks Pura-Pura Kuno di Bali tapi dengan areal yang jauh lebih luas, tidak terlalu banyak orang, dan pohon-pohon berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh.

 

Siem Reap sangat Touristy (mahal maksudnya). Selain mahal, tak satupun bahasa para Turis itu saya mengerti. Mayoritas mereka dari Eropa dan Jepang. Saya senang berada di tengah-tengah masyarakat dunia yang tertarik dengan sejarah. Wajah mereka terlihat cerdas *halah*…setidaknya lebih cerdas dari wajah saya….*halaaaaaaaaaah*

 

Apa yang saya dapatkan Hanya 12 Jam di Kamboja???

Hampir 7 Jam saya berjalan kaki, berfoto, sisanya adalah menggosongkan kulit yang sudah gosong ini akibat 2 minggu terakhir saya tour de Riau Daratan. Menjenguk beberapa peninggalan bersejarah yang berada di daerah-daerah berladang minyak. Nanti saya ceritakan di tulisan lainnya 🙂

 

Dan saya terpukau melihat langit Siem Reap. Langit Riau lumayan indah, matahari terik dan tidak terlalu banyak polusi (jika tidak lagi musim pembukaan paksa lahan sawit). Tapi langit di Siem Reap??? Sepertinya saya tengah melayang hari itu. Saya memilih duduk sendiri beberapa saat di salah satu pojok reruntuhan Candinya. Saya sebut saja Pojok Pukau. Ada dua pohon besar di seberang sana. Mereka berdiri di bagian sisi jalan yang berbeda namun bersama memberi keindahan pada frame yang sedang saya pandangi. Sesaat saya mendendangkan soundtrack film The Lone Ranger, favorit abang saya. Sesaat kemudian saya berpikir, betapa saya tidak akan menyesal dengan “Traveling Buru-Buru” ini.

 

 

12 Jam Susur Vietnam

12 Jam susur Vietnam, tepatnya Ho Chin Minh City (HCMC) dulu dikenal sebagai SAIGON. 12 Jam cukup untuk menyusuri Distrik 1 dengan berjalan kaki. Merencanakan jalan-jalan yang hanya 12 Jam bukan perkara mudah. Anda harus betul-betul tahu dan sampai ke tujuan utama.

 

Gedung-gedung indah peninggalan Prancis di HCMC bisa dijangkau dengan berjalan kaki. HCMC agak bersahabat dengan teriknya. Saya malah sempat mencicipi kopi Vietnam yang terkenal itu di sebuah tokonya. Saya membawa pulang sekotak ..nanti untuk Bapak saya. Bapak saya yang suka mengelu-elukan bahwa Kopi-Kopi Vietnam adalah Kopi-kopi kemelut dan perjuangan.

 

Yang betul-betul berharga adalah sekitar 2 jam saya menghabiskan waktu di Museum Perang Vietnam. Pengunjung memang sedang sangat ramai. Ratusan pengunjung berekspresi prihatin tengah berjajar di depan diorama, foto-foto, dan  benda-benda museum yang dipajang rapi, tak satupun dari mereka berekspresi ceria apalagi tertawa.

 

Saya hanya mendengar dan membaca perang Vietnam dari cerita-cerita sejarah di buku-buku. Tak pernah menyangka konflik sebesar itu pernah terjadi di tempat yang begitu dekat dari tanah air kita. Peluru-peluru dari sebesar telunjuk sampai sebesar galon air mineral terpajang di rak-rak museum. Kendaraan-kendaraan perang diparkir di halaman gedung. Dan foto-foto dari fotografer perang dicetak ulang, digantung di dinding museum. Museum bercerita dari masa awal peperangan sampai akhir perang, termasuk dampak-dampak perang yang masih dirasakan masyarakat Vietnam sampai sekarang. Kalau anda ke Vietnam, sempatkan ke HCMC dan menyusuri museum-museum perangnya. Anda akan tenggelam ke masa lalu, masa-masa sulitnya kemanusiaan yang mungkin sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

 

Semalam di HCMC. Saya hanya terduduk di alun-alun kota…mungkin saja besok kiamat… Saya tentunya akan menghabiskan waktu hari ini dengan sangat baik….akkkkh Melooooooooooo….. Riau Daratan yang panasnya menggila itu membuat otak saya gusar 🙂 Tapi saat itu saya sudah lupa dengan tempat tinggal baru saya itu. Benar-benar lupa ….

 

Catatan Perjalanan :

Work hard play harder!

Kerja itu bikin nyandu, memberhentikan paksa otak untuk disuruh liburan itu jauh lebih tidak mudah.

Tapi untuk membuang 5 tiket perjalanan itu bukan sesuatu yang bijak…Setelah 5 detik berdebat dengan diri sendiri (dan rekening additional budget keadaan darurat) maka saya memutuskan membeli ulang tiket keberangkatan. Tanggal keberangkatan diundur dan rute dialihkan.

 

Tiket Jakarta – KL – Siem Reap saya gugurkan dan diganti dengan Pekanbaru – KL – Siem Reap. Liburan yang semula sepanjang 5 hari 6 malam saya iklaskan menjadi 4 malam 3 hari…. “Private Travel Agent” Saya hanya berkata, “beri tahu kalau-kalau mau escape” Siem Reap aman untuk Solo Traveler, saya bisa istirahat di hotel dan dijemput Tuk Tuk Kenalannya. Mari tutup mata, dan berangkat!! Saya berhutang sekotak besar coklat padamu , Trimakasih 🙂

 

TEEEEEEEEEEEEEEEEET Additional Budget pertama! Tiket PKU – JKT – Siem Reap sekitar IDR 1.4Juta

 

Saya menghitung durasi yang saya miliki untuk mengunjungi 3 negara ini. Saya hanya punya waktu 12 jam di kamboja sebelum melanjutkan ke HCMC melalui darat selama 13-15 jam. Artinya 2 hari ke depan saya bakal ngga cukup istirahat. Daripada tidur ga jelas di Bandara, Saya memutuskan menyewa kamar hotel di Bandara LCCT KLIA yang jauh dari mana – mana itu.

 

TEEEEEEEEEEEEEEEEET Additional Budget Kedua!! Sewa Hotel di Bandara LCCT – KLIA sekitar IDR 550rb

 

Solo Traveling itu tidak mudah dan tidak murah. Apalagi kalau bertandang ke Siem Reap. Sekarang saya mengerti seberapa Touristy-nya kota ini seperti yang disebutkan di buku-buku. Museumnya rata-rata menawarkan tarif masuk IDR 100rb – 200rb. Transportasi seperti Tuk Tuk IDR 150rb sehari belum termasuk tip. Biaya makan bikin geleng-geleng juga. Warung-warung sederhana beratap rumbia? Seng? Apalah itu ga jelas, menjual makanan yang berharga kisaran USD 5 ke atas. GLEK! Saya memilih minum air kelapa muda dari batoknya langsung… Saya butuh makanan yang HIGIENIS sekarang 😀
TEEEEEEEEEEEEEEEEEET Out of budget Kesekian!!! Saya menghabiskan IDR 1 Juta dalam 12 Jam di Siem Reap ….inilah liburan tersingkat dan termahal saya seumur hidup. Nanti kita balas saja di EROPA, setuju??? SETUJUH!!! 🙂

 

Lebih baik membawa USD ketimbang membawa mata uang Kamboja. Harga barang dan pembayarannya seringkali memakai USD dan CASH KERAS. Yang gesek masih sangat jarang (belum sempat nemuin). Kalau kehabisan uang tinggal tarik ATM, tapi ya begitulah … ATM lebih kepada ATJ… Anjungan Tunai Jarang-jarang. Kita tidak bisa berharap lebih bukan?? Kadang traveling di beberapa tempat di Indonesia saja kita masih harus membawa uang melebihi kemampuan dompet menampung…bila perlu bawa karung goni untuk menampung uang kalau berencana masuk ke pedalaman Indonesia selama berbulan-bulan. Semuanya bisa diatur, yang penting aman, jangan mencolok, norak, apalagi pake ikat kepala bertuliskan “I bring much money for your country” … demi keamanan sendiri kan 🙂

 

Saya memilih jalan darat dari Siem Reap ke Ho Chin Minh City (HCMC) . Perlu 13-15 Jam untuk menempuh jarak sekitar 350 km. Jalanannya tidak setegar Jalan Lintas Sumatra yang mewah itu, Bus yang saya tumpangi hanya bisa melaju dengan kecepatan 40km/jam di (katanya) Jalan Tol yang selebar sepertiganya Jalan Sudirman di Jakarta…. 40km/jam… Pantas saja tidur saya nyenyak hehehehe…Biaya Bus Malam Siem Reap – HCMC berkisar USD 20. Perjalanan Siem Reap – HCMC memungkinkan anda untuk singgah di Phnom Penh, Ibu Kota Kamboja, jaraknya hanya 5 jam dari Siem Reap. Namun sayang sekali, singkatnya waktu traveling tidak mengizinkan saya untuk turun dan berlama-lama di Phnom Penh.  Saya hanya turun di Phnom Penh untuk berganti bus, Bus semi bobrok yang mengantarkan saya menuju ke Perbatasan Kamboja, masuk ke Vietnam.

 

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEET anda jangan berharap banyak dengan Perusahaan Angkutan Bus Bobrok. Siapkan additional budget untuk membeli makanan/minuman di jalan, karena bus malam belasan jam itu hanya memberikan sebotol (sangat) kecil air mineral dalam kemasan 🙂

Tuhan mengusir hujan-hujan dan Tuhan mendekatkan pemberhentian bus yang saya tumpangi ke hotel tempat saya menginap di HCMC, Vietnam….hehee… saya beruntung. Turun dari bus, saya hanya perlu berjalan kaki menuju hotel. hehehehe….saya senang bisa segera meluruskan kaki, mandi, dan bisa merasakan makanan terenak sebulan terakhir. Kesenangan itu kemudian berlabuh di sebuah rumah makan Pho yang ada di sebelah hotel tempat saya menginap. Makanan di Riau tidak enak, apalagi di Kamboja 🙂

 

Berhati-hatilah jika disapa di jalanan HCMC. Entah wajah saya terlalu baik, atau pakaian saya terlalu mewah. Saya hanya memakai terusan rok bahan kaos, sepatu karet, dan tas kamera. Memang tampang saya bukan tampang orang susah mungkin hehehe…. Bawa ga bawa duit selalu Nampak berkelimpahan…(ini apa sih). Sapaan – sapaan itu bisa menimbulkan additional budget. Penjaja barang (terutama makanan) sangat mudah memaksa turis-turis wajah senang untuk membeli barang dagangan mereka dengan harga mahal. Selain itu keamanan juga patut diperhatikan. Beberapa kali saya diperingatkan oleh penduduk lokal untuk menjaga baik-baik barang-barang bawaan. Di HCMC katanya banyak jambret berkendara sepeda motor. Tapi untunglah tidak ada additional budget gara-gara dijambret. Hanya ada additional budget sekitar USD 3 Dollar untuk sebuah kelapa muda yang dijual paksa oleh seorang penjaja keliling …kali ini judulnya dipalak ABG 🙂

 

Bukan mebading namanya kalau perjalanannya datar-datar saja. Sambil menulis pilu, saya memperdengarkan sebuah lagu yang sangat cocok dengan kisah ini….

 

“Kau hancurkan diriku, jika kau tinggalkan akuuuu…..Kau Pilooootku”
“Kembalilah padaku, bawa separuh ndompetku….Kau PILOTKUUU”

Melongo di depan petugas gerbang keberangkatan yang suaranya serak-serak banjir itu. “Saya yang bikin last call tadi. Ke mana saja?” … guweeh duduk cuma 10 meter dari gerbang kaleeeeee…ente yang ga jelas manggilnya?? Ente manggil ga pake TOA?? Atau ente manggilnya pake bahasa Jawa???? Guwe kaga ngarti bahasa jawaaaaa….AAAARRRRRRGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH

 

Ketika itu,saya hanya terpaku di terminal keberangkatan LCCT. Mendapati pesawat yang hampir 4 jam saya tunggu malah pergi meninggalkan saya. Padahal tiket penerbangan terakhir hari itu menuju Jakarta. Dan besok saya harus terbang Jakarta – Pekanbaru dengan pesawat pertama. hahahahahahaha…. Saya Cuma bisa nyengir…Kalau hal ini terjadi di Jakarta, atau di Medan (yang pelayanan bandaranya tak kalah kacrut itu) saya mungkin mencak-mencak sambil nendang-nendang meja. Tapi sekarang saya hanya bisa nyengir…nyengir tidak akan menyebabkan anda mencolok di negeri tetangga, apalagi dideportasi..tidak..tidak…saya tidak sudi 🙂

 

Ketika itu pesawat saya delay 40 menit. Kenapa saya bisa ketinggalan pesawat??? Saya tidak tahu!!!
Sampai sekarang saya tidak habis pikir kenapa saya sampai ketinggalan pesawat. Tahu-tahu di Gate yang berada hanya 10 meter di depan saya itu sudah dipasang tulisan merah berbinar-binar CLOSED!!!!

Alamaaaak!!!! Saya sadar yang ada di kantong saya kini hanya kesabaran. Ini informasi penting buat anda yang sering transit penerbangan di LCCT – KLIA. Ruang tunggu keberangkatan Internasionalnya ngga jauh beda dari terminal bus!  Panggilan tidak jelas!!! Ga usah ngarepdotkom nama yang belum masuk gate mau dipanggil. Benar saja, ketika saya kembali ke ruang imigrasi, seorang petugas Imigrasi (yang Nampak sudah Senior) bercerita prihatin. Menurutnya seringkali kejadian penumpang ketinggalan pesawat di LCCT. Dengan langkah lemas (emang capek) saya kembali ke ruang Imigrasi untuk konfirmasi bahwa saya ketinggalan harga diri … eh pesawat …

 

 

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET additional budget IDR 1 Juta lebih untuk Tiket Kuala Lumpur – Jakarta penerbangan pertama esok harinya.

Keesokan harinya, ketika saya menunggu first flight ke Jakarta, beberapa orang penumpang juga tertinggal pesawat ke Macau….:HAMMER…..
Saya masih bersyukur cuma bawa ransel dan tas kecil yang semuanya saya cantolin di badan. Gimana mereka ya??? Mamak-mamak cantik dan bapak-bapak necis itu ga mungkin donk ga bawa koper penuh kosmetik yang dimasukkan ke bagasi pesawat. dududuudududud…. bikin kesal kalau menelusuri ketidak beruntungan mereka.

 

Inilah Additional Budget saya yang terakhir!!

 

Telat di Kuala Lumpur memporak porandakan rencana esok hari…meeting kantor saya postpone, ticket first flight Jakarta – Pekanbaru tidak bisa di reschedule karena penerbangan PENUH!!!!
Tidak ada penyu langka yang dikorbankan di cerita ini tapi ada 4 tiket penerbangan yang dibumi hanguskan : Jakarta – KL, KL – Seam Reap, KL – JKT, JKT – PKU…dudududududududududu….

Tapi hari itu senyum saya segera dikembalikan. Hanya butuh waktu 30 menit dari ketibaan saya di Terminal 3 Soetta saya sudah bisa menggenggam tiket penerbangan maskapai raja delay, Tiket Rute Jakarta- Pekanbaru yang baru, tiket pesawat terbang rute domestik termahal yang pernah saya beli seumur hidup. Tersenyum lebar karena tak semenitpun maskapai raja delay ini mendelaykan penerbangannya kali ini.

 

IDR 1.8 Juta saya keluarkan untuk additional budget yang terakhir kalinya.

 

Hari itu hari Selasa, Pukul 6 Pagi saya terbang dari Kuala Lumpur ke Jakarta, Pukul 8.30 saya sudah bercengkrama dengan Para Calo Tanah Air, Pukul 10.41 saya sudah boarding ke Pesawat yang akan membawa saya ke Pekanbaru, Pukul 13.00 saya sudah selesai mandi di Pekanbaru, Pukul 13.45 saya sudah makan nasi padang dan 2 teh botol, 14.30 laptop saya sudah menganga lebar di atas meja kantor, siap menemani saya untuk memulai meeting yang terpaksa saya tunda.

 

Mungkin bagi beberapa orang ini adalah petaka, tapi bagi saya ini adalah pelajaran. Pelajaran mahal harganya, apalagi kebahagiaan … akh! TEORI saya. Tapi saya ingin melakukan sedikit pengakuan di sini. Ini pengakuan saya, sebenarnya waktu itu saya belum ingin pulang. Saya senang sekali bisa lari-lari di stasiun-stasiun MRT di hari Senin, saya senang sekali melihat matahari terbenam di tempat nun jauh dari tempat tinggal saya sekarang, Tuhan menjawab keinginan saya, sayalah pemenangnya. Liburan (pelajaran) saya ditambahkan 1×12 Jam lagi…. walaupun hanya untuk tidur di ruang tunggu bandara hahahahahaha

 

Cerita ini saya tulis tanpa dilebih-lebihkan dan banyak yang saya kurangi. Segudang cerita penting yang tidak bisa saya ceritakan detail karena saya tidak sedang berminat menerbitkan Novel. Tapi kalau ada yang ingin mengangkat ceritanya ke dalam layar lebar silahkan kirim surat elektronik anda ke admin mebading….hehehehe …

 

Salam hormat saya untuk kartu-kartu kredit, dan kartu-kartu debit yang telah memberikan supportnya sehingga judul tulisan di atas bisa saya paparkan kisahnya….tidak lupa kepada Calo-Calo Tanah Air, yang setiap hari mangkal di depan loket penjualan Tiket di Terminal 1 Bandara Soetta. Saya bukan pendukung praktek percaloan tanah air, tapi adakah jalan yang lebih baik sementara tiket di loket sudah habis dan petugas-petugas penjual tiket ogah-ogahan melayani? Dan jangan khawatir, harga tiket di kawan-kawan calo ini hampir sama dengan tiket yang dijual online. Dan mereka, Calo-calo itu memberikan pelayanan terbaiknya, memastikan nama saya tercetak dengan benar di lembar tiket, dan mengawal saya sampai sukses masuk pesawat dengan selamat….sekarang saya bingung… Haruskah saya menjadi pelanggan setia calo?? Saya naikkan “customer satisfaction index” untuk Para Calo 🙂

 

Salam dekap untuk “private travel agent” saya… bagaimana bisa saya ber-SOLO TRAVELING tanpa beliau yang menguntit bak bayangan…hahahaha…

Cerita ini saya jadikan sebagai Traveling terbaik saya tahun ini. Semoga saya diberikan kesempatan-kesempatan hebat lainnya…tak peduli itu hanya sekelebat ..tak peduli itu  harus berbayar mahal…

 

I pray for anything .. I Pay for everything 🙂
Salam mebading

 

7 Thoughts to “5 Tiket Jadi 10 Tiket : 12 Jam Terpukau di Langit Kamboja, 12 Jam Susur Vietnam, 12 Jam di Kuala Lumpur, Tambahkan 1×12 Jam Lagi untuk Sebuah Kisah Memilukan (Memalukan) Traveler yang Ditinggal PILOT”

  1. Vima

    i give you only
    “WOW!” & “Oh My God…”
    ^_^

    1. writemebading

      hahahahaa …. Mamaaa…. :hammer

  2. Jujur ini tulisan terpanjagmu dan yang paling rapi plot ceritanya. Sumpah gue gemes banget ama kebegoan si traveler yang sok asik ampe ketinggalan pesawat dan haha hihii…
    Hehe… Dan jujur semakib malu sajah saya dengan tulisan anda bu, banyak sudah yang kamu tulis dan sayah masih disini terkooptasi oleh perilaku!!
    Gue akan baca lagi tulisan ini suer!! Serasa ngebayangin sinchan lagi backpakeran…Gokil!!!!
    *big hugh fot mama ayik*

    1. writemebading

      … Thanks,Bang!!!!!…bukan tulisan eijk yang tambah rapi, tapi Abang yang semakin ngaco … hahahahahahaha
      siapkan ranselmu… mari berjaya di tanah ini 😉

  3. evi

    Astagaaaaa.. Ketinggalan pesawatnya itu lho.. LOL 😀

    1. writemebading

      dududududududu … 🙂

  4. yap! different is great 🙂

    thank you sudah membaca …

Leave a Reply