Sprinter Digjaya (6) – Ibu, Kamar Ini Berkeramik Kelas Satu.

 

Selamat sore, Ibu … apa kabarmu?
Semoga sehat dan bahagia.

Dari kamar besar ini aku menyapamu, ibu…. Kamar baruku, yang menemaniku hidup di tanah baru ini.
Kamar baruku, kamar besarku, belum pernah aku tinggal di kamar sebesar dan sebagus ini … seumur hidupku. Termasuk kamar bagus yang dulu diberikan Cuma-Cuma oleh seorang family…tidak sebesar ini.

Tempat tidurnya, ibu….sebesar tempat tidur dirumah, yang aku tiduri bersama kakak dan pengasuh, ketika aku masih kecil. Ingatkah engkau ibu? Tempat tidur itu mungkin masih ada, engkau berikan ke sanak family yang masih membutuhkannya atau sudah dibuang ke tempat pembuangan barang bekas?? Aku tak ingat lagi..tapi aku yakin kau masih ingat, ibu….kau ingat barang-barang pertamamu, yang kau beli untuk kami, dari setiap tetes keringatmu.
Tapi, ibu … tempat tidurku sekarang, kasurnya lebih bagus. Keras, sehingga punggungku bisa lurus, dan selimutnya bisa menutup tubuhku sampai ke kepala, tanpa harus sesak napas, tanpa harus kedinginan karena AC yang kunyalakan, dan tak usah merasa pengap….selimutku, ibu…. selimut kelas satu.

Ibu, lihat, lemari pakaiannya tiga pintu, terdiri dari dua tingkat. Pintu tinggi di bagian bawah dan pintu-pintu pendek di bagian atas. Lemarinya menjulang sampai langit-langit kamar. Mungkin 3 meter tingginya, sampai-sampai raknya tak sanggup kupenuhi dengan pakaianku yang hanya beberapa helai ini.

Ada meja yang tempat menaruh sound system model lama yang kubawa dari rumah dua tahun lalu…. Milik adik dulu. Kutukar tambah saja dengan sound system lamaku yang kubeli sewaktu kuliah delapan tahun lalu seharga lima ratus ribu, dan sebuah player dvd yang kubawa dari Surabaya, kutukar tambah dan beberapa lembar uang yang kurasa tidak cukup untuk mengganti kerugian yang dideritanya untuk sebuah kekecewaan sound systemnya kubawa pergi 🙂

Ada sebuah kursi yang tak pernah kududuki. Kusungkurkan tas kantorku yang berat itu. Dibawah kursi kutumpuk buku-buku yang tak semuanya sempat kubaca sampai habis. Sebagian kubawa dari Jakarta, sebagian lagi kubeli di toko buku besar, yang ternyata tidak jauh dari sini. Aku bisa berjalan kaki untuk sampai di depan rak-rak besarnya 🙂

Pintunya, ibu…ada dua. Satu ke lorong, satu lagi membuka ke teras samping. Ada dua jendela besar di sebelahnya. Kubuka kalau aku sedang membersihkan kamar. Aku tidak terlalu suka dengan udara di luar yang terlalu panas.

Dan kamar ini, ibu…dilengkapi dengan kamar mandi yang besar. Dua kali lipat kamar mandi kita di rumah. Keramiknya keramik kelas satu, porselennya porselen paling mahal. Perangkat showernya tertulis “Made in Japan”. Tentu saja aku percaya … pabrik-pabrik itu tidak mungkin berbohong.

Dan ibu, gordennya dua lapis. Kelambu dan gorden ikat yang berwarna coklat keperakan. Tak pernah aku menyentuh gorden sebagus ini. Kelambunya bersih, menyamarkan angin yang masuk ke ruangan. Lantainya kelas satu, aku mampu duduk berlama-lama duduk di atasnya, sambil menonton konser-konser terbaik, dan menulis.. tulisan-tulisanku untukmu..

Tahukah kau ibu, aku menyewanya tidak terlalu mahal. Biaya sewa perbulannya hanya sedikit lebih besar dari gajiku enam tahun lalu, ketika aku memulai hidup baruku di tanah yang lain. Lebih murah dari kamar yang ku sewa di ibu kota, yang tidak begitu bagus. Kamar lain yang kusewa empat tahun lalu, yang tidak terlalu besar, tapi begitu banyak cerita yang terjadi di dalamnya. Kamar itu kini tidak lagi kusewa…aku sudah pindah lagi, ingatkah kau ibu??

 Tapi ibu…. Di sini tidak ada bunga-bunga indah… Makananku tidak cukup sayur… Airnya membuat kulitku kambuh biang keringatnya… Udaranya terlalu panas, ibu …. Kulit tubuhku mengelupas, ibu …. Kulitku sekarang jauh lebih gelap. Tak seperti kulitku yang kau turunkan dari keturunan unggulmu.

Ibu, di sini juga tidak ada sahabat. Ibu, di sini tidak ada bukit-bukit indah seperti di rumah. Tidak ada lahan-lahan hijau yang digarap saudar-saudara kita, yang ditepiannya ditancaplan bendera merah putih. Kalau mau melihat bendera, aku harus berjalan kaki, ke sana… ke depan rumah besar penguasa tanah ini.

Aku tak berkata tidak ada bunga-bunga itu buruk, aku tidak menyimpulkan tidak ada perbukitan yang menyapa di setiap perjalanan itu tidak baik. Bagaimanapun, ibu…Aku senang mengatakan ini, langit di sini indah…meskipun belum bisa aku katakan, langitnya seindah langit di rumah…

Ibu, jalan ini adalah jalanmu yang tak pernah sempat ditempuh akhlak pikiranmu. Badanku meninggalkanmu, ibu…sudah sejak lama…semakin jauh dan jauh….Tapi kau tak akan pernah berhenti melihatku. Dan aku tak akan berhenti merasakanmu, jiwamu tertanam di jiwaku….

Ibu, apapun yang ada di depanku, tak urung akan aku lalui. Karena aku tahu kau telah menunaikan kewajibanmu, meneriakkan “Putriku Si Pemberani”. Karena aku tahu, kelak…aku akan tinggal di dalam rumah..yang memiliki kamar-kamar yang sebagus kamar sewaanku ini, berada di atas tanah utama, berpohon-pohon hijau dan rindang, dihuni oleh para terkasih yang diberkati, dengan sayuran yang cukup di makanan kami…makanan kita. Ibu, aku akan hidup selamanya oleh berkatmu…..

Salam sujudku dari tanah Sumatra.
Mebading

 

2 Thoughts to “Sprinter Digjaya (6) – Ibu, Kamar Ini Berkeramik Kelas Satu.”

    1. writemebading

      Rhedjozt!!

Leave a Reply